BANGLI – Bencana alam di wilayah Bangli beberapa hari yang lalu, selain merenggut korban jiwa, juga menghadirkan kerugian material mencapai puluhan miliar.
Berdasarkan laporan yang diterima BPBD Bangli, dari tanggal 8 -17 Oktober 2022 estimasi kerugian material akibat dampak bencana alam mencapai Rp4 miliar lebih.
”Kerugian mencakup kerusakan rumah warga, infrastruktur akses jalan, lahan masyarakat dan fasilitas publik lainnya,” ungkap Kepala Pelaksana BPBD Bangli, I Wayan Wardana; didampingi Kasi Kedaruratan dan Logistik BPBD Bangli, Ketut Agus Sutapa, Senin (24/10/2022).
Menurut birokrat asal Kintamani ini, akibat bencana tanah longsor dan pohon tumbang mulai Januari, sebanyak 10 titik lokasi rusak berat dan ringan. Selain itu belasan titik ruas jalan ikut rusak akibat terkena longsoran.
“Untuk penanganan, sambungnya, sudah dikoordinasikan dengan Dinas PU Bangli, Dinas PU Provinsi Bali, bekerja sama dengan TNI/Polri dan masyarakat setempat, termasuk juga relawan,” katanya.
Sebelumnya, Kabid Bina Marga Dinas PUPR Perkim Bangli, I Wayan Lega Suprapto, mengatakan, hujan lebat yang terjadi sejak beberapa hari lalu mengakibatkan kerusakan aset jalan.
Dari hasil pendataan, kerusakan terjadi di 14 titik yang tersebar di empat kecamatan yang ada di Bangli. Hingga tanggal 11 Oktober, estimasi anggaran yang dibutuhkan untuk perbaikan fasilitas jalan berikut bangunan pendukung mencapai Rp6,5 miliar lebih.
Suprapto didampingi Teknik Jalan dan Jembatan, I Wayan Miarsa, menambahkan, titik kerusakan terparah terjadi di ruas jalan Bengang-Payuk, Kecamatan Tembuku. Jalan penghubung kedua dusun tersebut putus, sehingga tidak bisa dilalui.
Dari hasil survei, badan jalan sepanjang 15 meter, lebar 6 meter dengan ketinggian 7 meter amblas. ”Dari hasil kajian, perbaikan jalan tersebut menghabiskan anggaran sekitar Rp1,25 miliar,” terangnya.
Hujan lebat juga mengakibatkan bahu jalan Songan-Belandingan di Kecamatan Kintamani ambrol. Sementara ini jalan masih bisa dilewati kendaraan, dan untuk mempertahankan badan jalan maka perlu dibuat Dinding Penahanan Tanah (DPT). ”Estimasi anggaran yang dibutuhkan untuk pembuatan DPT berikut sarana pendukungnya sekitar 1,1 miliar lebih,” jelasnya.
Topografi Bangli yang berada di dataran tinggi dengan struktur tanah berpasir, ulasnya, memang riskan terjadi longsor saat musim hujan. Dari 14 titik kerusakan, secara keseluruhan perlu dibangun DPT.
Mengenai alokasi anggaran untuk perbaikan aset jalan di 14 titik tersebut, Suprapto mendaku Pemkab Bangli akan mengajukan permohonan bantuan ke Pemprov Bali.
”Kami sebatas membuat rekapitulasi dan estimasi kerugian aset jalan, nanti permohonan bantuan ke Pemprov akan difasilitasi lewat Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Penelitian dan Pengembangan Bangli,” pungkasnya.
Sementara itu, dampak bencana akibat hujan deras beberapa waktu lalu di wilayah Karangasem mengakibatkan kerugian material mencapai puluhan miliaran rupiah.
Banyak harta benda, hewan ternak, lahan pertanian dan infrastruktur, fasilitas umum lainnya seperti jembatan, jalan, gedung sekolah, pura dan lainnya rusak. Estimasi kerugian diperkirakan lebih dari Rp22 miliar.
Kabid Bina Marga PUPR Karangasem, I Wayan Surata Jaya, Senin (24/10/2022) mengatakan, berdasarkan catatan petugas, dampak kerusakan infrastruktur ada 11 titik, terutama akses jalan dan jembatan. Ada jembatan yang jebol di ruas jalan Banyu Campah Kebung, Sidemen, dan ini termasuk yang paling parah.
“Untuk penanggulangan sudah diusulkan tahun 2023 melalui telaahan staf dengan menggunakan box culvert ukuran 5 x 5 meter, dengan biaya 1,2 miliar,” terangnya.
Hal senada diutarakan Ida Bagus Arimbawa, Kepala BPBD kabupaten Karangasem. Menurutnya, kemungkinan dampak kerugian akan terus bertambah, mengingat sampai saat ini petugas BPBD masih melaksanakan asesmen.
Arimbawa merinci kerugian yang paling berat ada pada fasilitas umum seperti kerusakan jalan yang mencapai Rp19 miliar. Sementara kerusakan rumah warga, kelengkapan rumah, dan fasilitas umum meliputi pura perorangan, umum, dan sekolah mencapai hampir Rp3 miliar. Kerugian lahan pertanian, kebun dan ternak seperti ayam, sapi babi sekitar Rp700 juta.
“Data tersebut dari tanggal kejadian 17 Oktober sampai 21 Oktober, kami masih merangkum data kembali. Kemungkinan kerugian akan bertambah karena sampai sekarang pun petugas kami masih melakukan asesmen ke tempat bencana,” ungkap Arimbawa. gia/nad
























