Bejat! 11 Orang Pelaku Persetubuhan Anak di Bawah Umur

  • Whatsapp
TIM Bapas Denpasar mendatangi Polres Buleleng untuk melakukan penelitian terhadap para pelaku yang masih dibawah umur atas kasus persetubuhan di Buleleng. foto: rik

BULELENG – Unit PPA Satreskrim Polres Buleleng kembali menetapkan satu orang tersangka kasus persetubuhan terhadap anak di bawah umur berinisial KMW (12), warga di Kecamatan Buleleng. Dengan tambahan satu orang tersangka ini, total ada 11 orang pelaku kasus yang menyita perhatian publik di Buleleng bahkan di Bali ini.

Dikonfirmasi seizin Kapolres Buleleng, Kasubag Humas Polres Buleleng, Iptu Gede Sumarjaya, tak menampik ada tambahan 1 orang tersangka atas kasus persetubuhan yang menimpa salah seorang siswi SMP di wilayah Buleleng. Meski begitu, Sumarjaya masih enggan membeberkan identitas tersangka tersebut.

Bacaan Lainnya

Namun Sumarjaya menegaskan, satu orang tersangka tambahan ini kini ditahan. “Ya ditahan, umurnya kan sudah dewasa. Jadi total ada 11 orang tersangka. Besok (hari ini, red) kami akan rilis, silakan tanya detail nanti disana, identitasnya dan darimana satu orang tambahan tersangka itu,” kata Sumarjaya, Selasa (10/11/2020).

Sebelumnya, dalam penanganan kasus persetubuhan terhadap anak dibawah umur, polisi menetapkan 10 orang tersangka, 3 orang telah ditahan karena sudah dewasa yakni Gede Putra Ariawan alias Wawan (19) asal Desa Alasangker, Putu Rudi Ariawan (19) alias Rudi dan Kadek Arya Gunawan alias Berit (22) asal Lingkungan Penarungan, Kelurahan Penarukan.

Baca juga :  Peringati Hari Jadi ke-75 TNI AL, Lanal Denpasar Ikuti Upacara Virtual dan Gelar Syukuran

Sementara sisanya 7 orang masih di bawah umur dan tidak dilakukan penahanan. Mereka berinisial GP, GA, E, KD, KJ, S dan T. Meski tidak ditahan, ketujuh orang pelaku ini ternyata tetap menjalani proses hukum mengingat ancaman hukuman mereka di atas 7 tahun penjara.

Sumarjaya pun tak memungkiri, jika penanganan kasus anak dibawah umur sebagai pelaku melibatkan banyak instansi. Salah satunya, Balai Pemasyarakatan (Bapas) Denpasar untuk proses pendampingan maupun penelitian. Hasil penelitian ini akan menjadi pertimbangan untuk penyidikan lebih lanjut dalam kasus ini.

Dijelaskan Sumarjaya, proses untuk penahanan terhadap anak-anak itu tergantung penyidik. Sepanjang mereka ada yang menjamin tidak akan melarikan diri, tidak akan mengulangi perbuatan, tidak menghilangkan barang bukti, dan kooperatif saat menjalani pemeriksaan polisi.

Pasalnya , masa penahanan sangat singkat yakni 7 hari di penyidik lalu diperpanjang 8 hari. “Sekarang masih dalam kejar-kejaran waktu, sedangkan proses ini masih pemeriksaan guna kelengkapan saksi-saksi lainnya,” ujar Sumarjaya.

Untuk diketahui, sebelumnya tim Bapas Denpasar sudah turun ke Polres Buleleng menindaklanjuti kasus tersebut dengan melakukan penelitian, pada Senin (9/11/2020). Tim ini datang atas permintaan Polres Buleleng. Penelitian ini terhadap 7 orang dari 10 tersangka atas kasus persetubuhan yang masih di bawah umur.

Mereka diteliti untuk mengetahui sejauh mana keterlibatan dalam aksi persetubuhan terhadap korban seorang siswi SMP. “Kami disini dalam penelitian kemasyarakatan sesuai permintaan Polres Buleleng terhadap ketujuh anak ini. Ini sesuai UU nomor 11 Tahun 2012 tentang sistem peradilan pidana anak,” ucap Koordinator Tim Bapas Denpasar, Sekti Pertiwi.

Baca juga :  PAD Bangli 2021 Disepakati Rp105 Miliar

Dalam penelitian ini, tim sudah bertemu dengan 7 orang tersangka yang masih dibawah umur, pihak keluarga dan aparat pemerintah desa setempat. Dan hasilnya nanti akan dikirim ke Polres Buleleng dalam waktu dekat setelah selesai melewati sidang TPP Bapas. “Kalau hasilnya, harus sidang TPP. Setelah selesai, baru kami akan kirim kesini (Polres Buleleng, red),” kata Sekti Pertiwi. 018

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.