Bali Perlu Cari Wisatawan Negara Lain, Antisipasi Ketiadaan Kunjungan Australia

  • Whatsapp
IGN Rai Suryawijaya. Foto: ist
IGN Rai Suryawijaya. Foto: ist

MANGUPURA – Kebijakan Australia yang menutup perjalanan internasional mereka hingga akhir 2021 dinilai merupakan pukulan bagi sektor pariwisata Bali. Hal tersebut membuat pelaku dan praktisi pariwisata Bali, khususnya di Badung merasa prihatin.

‘’Jika Australia menutup kunjungan, baik untuk yang datang dan keluar, maka ini bagi Bali adalah tantangan luar biasa sangat sulit di sektor pariwisata,’’ ujar Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kabupaten Badung yang juga Wakil Ketua PHRI Bali, IGN Rai Suryawijaya, Minggu (18/10/2020).

Bacaan Lainnya

Ia memaparkan selama ini Australia merupakan penyumbang wisatawan paling besar bagi Indonesia, khususnya Bali. Pada 2019, tercatat hampir mencapai 1,3 juta wisatawan Australia, kemudian disusul Tiongkok dan India.

Selain itu, Bali selama ini dikenal menjadi second home (rumah kedua) bagi wisatawan Australia. Ditambah penerbangan Australia-Bali dilakukan langsung (direct flight), sehingga itu sangat memudahkan wisatawan Negeri Kangguru itu ke Bali. “Melihat beberapa faktor tersebut, maka kebijakan Australia tersebut tentunya merupakan ‘ancaman’ bagi eksistensi pariwisata Bali. Sehingga hal itu harus disikapi serius, jika ingin pariwisata Bali kembali pulih ketika Covid-19 ini dapat dikendalikan,” katanya.

Baca juga :  Sehari, 2 Pasien Covid-19 di Bali Meninggal, Positif Bertambah 37, Sembuh 17 Orang

Menurut Suryawijaya, dengan hal tersebut, maka Pemerintah Indonesia, khususnya Bali, perlu mencari wisatawan dari negara lain sebagai nilai tambah atas potensi ketiadaan kunjungan wisatawan Australia sampai akhir 2021. Kendati demikian, tentunya hal itu tentu tidaklah mudah menggantikan kehilangan 1 juta sekian kunjungan wisatawan Australia.

Ia mengaku memaklumi, apa yang dilakukan Australia itu semata demi memproteksi warga negaranya, atas ancaman bahaya kesehatan. Keputusan tersebut tentu sangat berat bagi Australia karena mereka sendiri ingin adanya kunjungan wisatawan ke negaranya.

Sepanjang belum ditemukan adanya vaksin dan obat permanen dalam pengobatan Covid-19, mereka cenderung tidak mau ambil risiko atas potensi ancaman kesehatan yang bisa terjadi. ‘’Kami harap vaksin ini bisa segera ditemukan sehingga pariwisata bisa kembali pulih. Ketika ada vaksin itu di Indonesia, kami harap Bali diprioritaskan dalam hal itu,’’ harapnya.

Di sisi lain, pihaknya dan rekan-rekannya di PHRI juga mengaku terus mempromosikan pariwisata Bali secara virtual ke berbagai negara. Hal itu untuk menyegarkan informasi kepariwisataan Bali, termasuk penerapan protokol kesehatan CHSE, verifikasi usaha pariwisata, dan sebagainya. Dengan harapan ketika pariwisata Bali kembali di buka, maka animo kunjungan wisatawan bisa kembali menggeliat. 023

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.