POSMERDEKA.COM, MATARAM – Lembaga Kajian Sosial dan Politik M-16 memprediksi efek ekor jas Pilpres 2024 tidak akan berdampak signifikan menaikkan insentif elektoral di kalangan pemilih pemula (milenial dan Gen Z). Karena itu, setiap bacaleg tidak bisa santai-santai dan harus mulai menyiapkan strategi mendulang dukungan signifikan dari sekarang.
“Pemilih milenial itu memiliki independent mindset, dan enggan diatur oleh arus utama. Mereka cenderung mencari informasi sendiri, menganalisis kandidat dan isu-isu yang relevan, serta membuat keputusan berdasarkan pemahaman pribadi mereka tentang masalah itu,” ujar Direktur M-16, Bambang Mei Finarwanto, Jumat (4/8/2023).
Generasi milenial, jelasnya, tumbuh dalam era teknologi digital dan internet yang memungkinkan akses mudah ke berbagai sumber informasi. Imbasnya, generasi milenial sering mengandalkan media sosial dan situs berita daring untuk mendapat wawasan lebih mendalam tentang calon anggota legislatif dari berbagai partai.
Para pemilih milenial juga cenderung lebih terpapar kepada ideologi dan program partai secara langsung, daripada hanya mengandalkan popularitas capres yang saat ini tengah melejit berdasarkan sigi sejumlah lembaga survei.
“Kandidat yang ingin mendapat insentif elektoral dari pemilih milenial, tidak bisa hanya mengandalkan cara persuasi yang konvensional dengan menyebar baliho atau stiker belaka. Sebab, mereka adalah generasi yang tumbuh di era teknologi, yang mengakses informasi dari situs media daring dan media sosial,” urainya.
Dia mengungkapkan, pemilih milenial sering lebih peduli pada isu-isu spesifik. Mereka juga umumnya memiliki pemikiran yang lebih terbuka atau inklusif. Isu-isu spesifik itu, menurut Bambang, misalnya terkait dengan lapangan pekerjaan, perubahan iklim, kesetaraan gender, maupun yang terkait dengan informasi dan teknologi, misal gim Mobile Legend.
Karena itu, preferensi pilihan milenial akan sangat ditentukan oleh bagaimana calon tersebut berkomitmen pada isu-isu yang mereka anggap penting. Jadi, bukan berdasarkan survei calon presiden dari partai tertentu.
Selain itu, sambungnya, berdasarkan pengalaman pesta demokrasi dari beberapa negara, pemilih milenial tinggal di sistem multipartai atau multikoalisi. Karena itu, dalam konteks ini, efek ekor jas menjadi lebih sulit terjadi mengingat pemilih memiliki pilihan lebih luas dan lebih beragam.
“Pemilih milenial lebih cenderung memilih partai atau kandidat dari partai berdasarkan program dan visi partai secara keseluruhan, ketimbang hanya karena popularitas capres,” lugasnya.
Pada Pilpres 2024, kata Bambang, pemilih milenial akan menjadi pemilih dominan di seluruh Indonesia. Data KPU NTB menyebutkan, jumlah pemilih milenial dan Gen Z mencapai 2,1 juta. Jumlah tersebut setara dengan 54 persen jumlah pemilih di Bumi Gora.
Menimbang data tersebut, Bambang mengingatkan bacaleg bahwa 2,1 juta pemilih milenial tersebut tidak akan mudah dipersuasi untuk kepentingan insentif elektoral. Mereka butuh pendekatan berbeda. Apalagi saat ini para pemilih milenial dinilai sangat sadar bahwa mereka dijadikan target menambah insentif electoral, karena jumlahnya sangat signifikan.
Seiring dengan independensi mereka, Bambang menyebut pemilih pemula juga sering menunjukkan sikap skeptis terhadap politik tradisional dan elite politik. “Mereka cenderung mencari wajah baru, pemimpin yang lebih transparan, dan berorientasi pada solusi atas masalah sosial dan ekonomi,” tandas Bambang. rul
























