Uji Coba Buka Pariwisata Bali Berpotensi Ditunda, Aktivitas Warga Banyak Abaikan Prokes

  • Whatsapp
ANGGOTA Komisi 2 DPRD Bali, I Made Budastra. Foto: hen
ANGGOTA Komisi 2 DPRD Bali, I Made Budastra. Foto: hen

DENPASAR – Ditundanya rencana pembukaan perbatasan secara terbatas melalui travel bubble (gelembung perjalanan) antara Kepulauan Riau (Kepri) dengan Singapura melahirkan pesimisme di dunia pariwisata, termasuk untuk Bali. Sebab, alasan utama penundaan itu karena angka kasus Covid-19 di Kepri dinilai masih dalam taraf mengkhawatirkan. Jika Bali tidak waspada dengan pandemi Covid-19, rencana uji coba wisata internasional pada Juni nanti juga berpotensi ditunda.

Anggota Komisi 2 DPRD Bali, I Made Budastra, mengakui kondisi yang dialami Kepri bisa saja juga menimpa Bali jika kondisi penyebabnya sama. “Kalau angka kasus Covid-19 masih tinggi, misalnya terus tiga digit, bisa saja rencana uji coba pariwisata internasional itu ditinjau kembali oleh pusat. Ini yang harus kita perhatikan bersama antara pemerintah dan masyarakat,” ujarnya, Minggu (25/4/2021).

Bacaan Lainnya

Dalam skenario terbaik, kata dia, tentu penerbangan internasional akan dibuka di Bali untuk pelancong mancanegara pada Juni atau Juli mendatang. Namun, skenario terburuk adalah apa rencana Pemprov Bali dan pusat itu tidak dapat diwujudkan karena angka kasus masih tinggi. Ketika skenario terburuk yang terjadi, sambungnya, masyarakat bisa saja melampiaskan kekesalannya kepada pemerintah yang dianggap gagal memperbaiki keadaan.

Baca juga :  OMG! SMA PGRI 6 Denpasar Hanya Dapat 18 Siswa

“Kondisi seperti itu yang rentan masalah tambahan, misalnya saling menyalahkan tanpa berpikir pangkal masalah. Pemerintah sudah berusaha, pelaku pariwisata juga sudah mengupayakan banyak hal seperti CHSE, tapi kalau tidak diimbangi kedisiplinan masyarakat terkait protokol kesehatan (prokes) maka akan sama saja,” urai politisi PDIP asal Gianyar tersebut.

Disinggung meningkatnya aktivitas masyarakat karena pemerintah juga melonggarkan restriksi, misalnya kegiatan agama dan operasional kegiatan ekonomi, Budastra tak memungkiri. Menurutnya, kebijakan pelonggaran itu ditujukan mencari titik ekuilibrium untuk memulihkan ekonomi masyarakat dengan pola normal baru. Hanya, dalam pelaksanaannya yang tidak disertai dengan kesadaran yang sepadan oleh masyarakat.

Dilihat sepintas saja, ulasnya, mudah ditemukan celah terkait fakta kesadaran dan fakta pengawasan. Fakta kesadaran yang dimaksud yakni dibukanya restriksi terlihat dimanfaatkan maksimal oleh masyarakat untuk beraktivitas, dan cenderung mengabaikan prokes. Fakta pengawasan, sambungnya, terlihat menurun dengan banyaknya pelanggaran prokes tanpa peringatan.

“Yang terakhir itu konsistensi perjuangan kita juga menurun, bisa dilihat dari tidak selarasnya kebijakan pelonggaran terhadap target yang sebelumnya kita perjuangan bersama.  Masalahnya, konsistensi perjuangan ini berkorelasi dengan uji coba Travel Corridor Arrangement pada Juni, Juli serta permanen Agustus untuk seterusnya,” ungkap Budastra.

Alih-alih menyalahkan pihak lain, Budastra lebih memilih untuk mengajak semua elemen di Bali kembali ke semangat perjuangan untuk keluar dari pandemi saat ini. Kata dia, kondisi yang diidamkan semua pihak adalah tercapainya target Bali dibuka untuk pariwisata internasional. Dia mengajak menumbuhkan kesadaran dengan menahan diri dan lebih bijak dalam beraktivitas di masyarakat.

Baca juga :  Aksar Sasar Milenial Jadi Penggerak Ekonomi Loteng

Apakah termasuk tidak jor-joran dalam melaksanakan upacara agama seperti terlihat dalam upacara pernikahan di banyak tempat? “Ah, itu kan salah satu saja. Intinya ayo sama-sama bijak menyikapi kondisi saat ini, lagi sedikit lagi lho kita bisa buka pintu pariwisata mancanegara. Jangan sampai gagal,” pungkasnya.

Sebelumnya, dikutip dari CNN Indonesia, rencana pembukaan perbatasan secara terbatas melalui  gelembung perjalanan antara Singapura dengan Nongsa di Batam, dan Singapura dengan Bintan Resort di Bintan, Provinsi Kepulauan Riau, kembali ditunda. Awalnya travel bubble antara Nongsa-Singapura dan Bintan-Singapura dibuka pada 21 April 2021, bertepatan dengan Hari Kartini. Namun, kemudian diundur hingga 7 Mei 2021, dan diundur kembali hingga Agustus 2021. “Pada 7 Mei kemungkinan belum, makanya kita musti tekan terus (angka penularan Covid-19),” kata Gubernur Kepulauan Riau Ansar Ahmad di Batam, Kepri, seperti dikutip dari ANTARA pada Rabu (21/4/2021). hen 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.