POSMERDEKA.COM, DENPASAR – Gubernur Bali, Wayan Koster, mengklaim kondisi Bali saat ini cukup tersedia air minum dari berbagai sumber air untuk kebutuhan rumah tangga penduduk. Bahwa ada penduduk di daerah tertentu yang sampai saat ini belum teraliri air bersih, kondisi itu lebih kepada persoalan distribusi. Pernyataan itu dilontarkan Koster usai rapat paripurna dengan agenda jawaban Gubernur atas pandangan umum fraksi DPRD Bali atas Raperda Haluan Pembangunan Bali Masa Depan, 100 Tahun Bali Era Baru, Rabu (28/6/2023).
Sebelumnya, saat memaparkan latar belakang Raperda di rapat paripurna DPRD Bali, dalam salah satu slide yang ditayangkan, Koster menyebut Bali masa kini ketersediaan air minum dari berbagai sumber air untuk kebutuhan rumah tangga sudah cukup memadai. “Begini, (memang ada) kering di satu titik, tapi basah berlimpah di titik lain. (Ini) menyangkut distribusi. Kalau dipetakan, sumber air sebenarnya lebih dari cukup,” sebutnya.
Meski surplus air, jelasnya, tapi yang harus dilakukan pemerintah adalah membuat embung dan distribusi dari titik air ke titik yang membutuhkan. Misalnya di daerah Kubu, Karangasem yang dikenal sebagai daerah kering. Koster optimis krisis air di Kubu bisa segera selesai. “Ini masalah air dari berpuluh-puluh tahun tidak pernah kena air (sekarang diatasi) dari (sumber air) Telaga Waja. Nusa Penida juga bisa (diatasi),” bebernya.
Disinggung kemungkinan perubahan aturan maksimal tinggi bangunan karena penduduk pasti bertambah untuk 100 tahun ke depan, Koster menilai hal pertama yang mesti dilakukan efisiensi penggunaan lahan dulu. Soal bagaimana nanti perkembangannya, dia menyilakan pikiran orang ke depan yang menindaklanjuti. Namun, dia tidak menjawab tegas apakah tetap dipertahankan ada pembatasan tinggi bangunan, atau melepas untuk diubah atau dihilangkan sesuai keadaan.
“Tapi menurut saya sebaiknya jaga seperti ketinggian sekarang untuk perumahan. Tapi kalau fasilitas publik untuk kesehatan, kampus, masih bisa ditoleransi,” sambungnya dengan artikulasi hati-hati.
Lebih jauh disampaikan, Pemprov Bali kini sedang percepatan vaksinasi untuk penanganan rabies. Koster mendaku saat ini 51 persen anjing di Bali tervaksin rabies. Ketersediaan Vaksin Anti-Rabies (VAR) juga diklaim cukup banyak. Pemerintah Australia juga membantu 200 ribu dosis, dengan tanggal 1 Juli mendatang akan tiba 100 ribu dosis. Pemerintah pusat juga menyiapkan 350 ribu dosis.
“Target 2024 tidak ada lagi yang meninggal karena rabies. 2028 zero rabies, baik binatang dan manusia,” tegasnya. Koster tidak memungkiri banyak warga di Bali melepasliarkan anjing peliharaannya, yang rentan dengan penularan rabies. Hal itu akibat sulitnya mengedukasi masyarakat. Karena itu Pemprov mengajak desa adat supaya membuat aturan supaya warga tidak membiarkan anjingnya liar. Sanksinya apa? ”Terserah desa adat dengan peraraem atau apa,” lugasnya menandaskan. hen
























