Tanpa Regenerasi, Kesenian Kendang Mebarung Desa Baluk Terancam Punah

SEKAA Kendang Mebarung Desa Baluk, Negara, Jembrana saat pentas dalam lomba siskamling. Foto: ist

JEMBRANA – Kabupaten Jembrana yang terletak diujung barat Pulau Dewata, selain dikenal dengan Gumi Makepung dan Tanah Jegog, juga memiliki banyak kesenian hingga tradisi khas. Seperti kesenian yang masih bertahan hingga saat ini yakni Kendang Mebarung. Namun sayangnya, kesenian ini keberadaannya terancam punah lantaran kurangnya minat generasi muda untuk melestarikannya.

Kesenian Kendang Mebarung salah satunya ada di Desa Baluk, Kecamatan Negara, Kabupaten Jembrana, yakni Sekaa Panca Suara. Keberadaannya kini terancam punah lantaran tidak ada yang melanjutkan kesenian tersebut. Generasi muda di wilayah itu hanya berminat dengan kesenian lain seperti Jegog dan Balaganjur.

Bacaan Lainnya

Kelompok kesenian Kendang Mebarung di Desa Baluk sudah ada sekitar tahun 1950 silam, namun sempat vakum, hingga kemudian tahun 2003 kembali bangkit dengan jumlah anggota sebanyak 25 orang.

“Kami berusaha untuk membangkitkan kembali tradisi budaya asli Kabupaten Jembrana ini di Desa Baluk pada tahun 2003, namun satu kendang masih berstatus pinjam. Karena semangat warga Desa Baluk, kemudian bangkit dengan kembali membuat kendang dengan menggunakan kayu nangka dari sumbangan warga. Jadilah kendang tersebut hingga saat ini digunakan oleh Sekaa Panca Suara ini,” kata Ketua Kelompok Kendang Mebarung Panca Suara, Wayan Suanta, belum lama ini.

Suanta menuturkan, dari cerita-cerita terdahulu diperkirakan Kendang Mebarung di Desa Baluk ada sejak tahun 1950, diperkirakan sudah 10 kali regenerasi. “Untuk kendang yang asli dari tahun 1950 itu sudah tidak ada, sudah hancur dimakan usia. Untuk panjang kendang 2,1 meter, diameter depan 80 cm, dan belakang 60 cm.

Untuk berat 1 kendang ini diperkirakan mencapai 3 sampai 4 kwintal, dengan bahan rangka kayu nangka dan daun kendang menggunakam kulit sapi,” jelasnya.

Kendang Mebarung Panca Suara biasanya tampil saat ada kegiatan upacara keagamaan dan saat perayaan nasional.

“Contohnya seperti saat piodalan di Pura Khayangan Tiga (Pura Puseh, Pura Desa, dan Pura Dalem) yang ada di Desa Baluk. Untuk kegiatan nasional, biasanya untuk menyambut tamu, serta saat perayaan HUT Kota Negara hingga tampil di Pesta Kesenian Bali,” tegas Suanta.

Kesenian Kendang Mebarung itu juga biasa ditampilkan pada event-event lainnya seperti lomba Makepung, perayaan 17 Agustus, penyambutan tamu.

“Kalau dulu sering sekali kanu tampil di event-event pemerintah daerah, namun sekarang sudah jarang sekali, terakhir tampil pada perayaan PKB pada tahun 2010 lalu. Saat ini hanya tampil saat piodalan di Khayangan Tiga dan acara-acara keagamaan lainnya,” ulasnya.

Suanta juga mengatakan, adapun kendala dalam pelestarian Kendang Mebarung Desa Baluk adalah kurangnya minat generasi muda dalam melestarikan kesenian asli Jembrana tersebut.

“Regenerasi sangat kurang sekali disini, bahkan yang dulunya anggota Sekaa Panca Suara sebanyak 25 orang, kini hanya tersisa 8 orang saja yang mengoperasikan Kendang Mebarung ini. Harapannya ada perhatian pemerintah dalam pelestariannya,” katanya.

Hal senada diungkapkan salah satu penglingsir Desa Baluk, Wayan Suaba. “Kurang perhatian oleh generasi muda untuk meneruskan tradisi, jangan sampai hilang. Untuk generasi muda, mudah-mudahan ada niat untuk melanjutkan seni budaya asli Jembrana ini, jangan sampai punah, kita yang sudah tua nantinya pasti sudah tidak kuat lagi, kalianlah yang harus meneruskan,” harapnya. man

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses