MATARAM – DPW Partai Nasdem NTB saat ini tengah dipimpin Willy Aditya, pengurus di pusat yang saat ini menjabat Ketua DPP Nasdem. Posisi Willy ditunjuk sebagai Pelaksana Tugas (Plt) Ketua DPW Nasdem NTB diperkirakan hanya sementara waktu. Kabarnya, DPP Partai Nasdem tengah membidik sejumlah figur daerah yang dianggap tepat menggantikan Sitti Rohmi Djalillah yang mengundurkan diri.
Sebelumnya, sempat mencuat dua tokoh yang dinilai kuat dan berpeluang besar menggantikan Rohmi yakni mantan Wali Kota Mataram, Ahyar Abduh; dan Bupati Lombok Barat, Fauzan Khalid. Belakangan Ahyar Abduh memilih tetap di Partai Golkar, dan DPP Partai Nasdem juga tak kunjung menunjuk tokoh putra daerah sebagai Ketua DPW Partai Nasdem NTB. Kini muncul satu nama lagi, yakni Bupati Lotim, Sukiman Azmi.
Terkait kemunculan Sukiman, pengamat politik dari Universitas Gunung Rinjani (UGR), Basri Mulyani, menilai sebagai hal yang wajar. Selain itu juga dinilai saling membutuhkan. Dia menguraikan, Nasdem membutuhkan tokoh putra daerah yang dinilai punya basis massa, latar belakang kepala daerah menjabat, dan punya kepemimpinan kuat.
Apalagi Sukiman juga tidak menjadi kader parpol mana pun setelah mundur dari Dewan Pertimbangan DPW Partai Demokrat NTB. Sebaliknya, Sukiman juga butuh sokongan parpol sebagai kendaraan politik maju di Pilkada NTB 2024. “Ini mempertemukan kepentingan Partai Nasdem dan Sukiman Azmi,” kata Wakil Rektor UGR tersebut, Jumat (9/12/2022).
Dalam pandangan pengamat politik dari UIN Mataram, Ihsan Hamid, adalah menjadi sebuah tanda tanya kenapa DPP Partai Nasdem tak langsung menunjuk putra daerah menjadi Ketua DPW Partai Nasdem NTB. Padahal di internal partai ada tokoh sekelas Fauzan Khalid, Rumaksi, Abdul Kadir Jaelani, dan Fud Syaifuddin.
Dengan tak langsung menunjuk tokoh putra daerah menjadi Ketua DPW, maka sangat mungkin DPP tengah mempertimbangkan nama tokoh di luar itu. “Nah, saya kira di sini peluang Pak Sukiman Azmi cukup besar,” kata alumnus Doktoral UIN Jakarta ini.
Ihsan menilai posisi Sukiman sebagai Bupati Lotim, yang juga kabupaten dengan jumlah penduduk terbesar di NTB, akan menjadi keuntungan tersendiri bagi Sukiman maupun di mata DPP Partai Nasdem. Dengan posisi itu, diharapkan Sukiman bisa memaksimalkan raihan suara bagi kemenangan Nasdem NTB pada Pemilu 2024. Selain itu, Sukiman dinilai bisa menjadi tokoh yang bisa mengimbangi kekuatan politik TGB di NTB.
Dengan mundurnya Sitti Rohmi, tentu meninggalkan luka bagi elit Nasdem. Mereka harus punya figur atau tokoh yang bisa menjadi antitesa bagi kekuatan politik TGB di NTB. Terlebih Sukiman ingin maju dalam Pilkada NTB 2024. Muaranya adalah Sukiman bisa dijadikan kompetitor kuat bagi duet Zul-Rohmi jilid II, yang tentu akan didukung TGB. “Sukiman jadi antitesa politik TGB di NTB,” tegas Ihsan.
Mencuatnya peluang Sukiman menakhodai Partai Nasdem NTB, dikabarkan tidak terlepas dari adanya hubungan baik antara Sukiman dan calon Presiden Anies Baswedan. Dengan dipegangnya Partai Nasdem NTB oleh Sukiman, maka diharapkan Bupati Lotim itu bisa memaksimalkan kemenangan Nasdem pada Pileg, dan Anies Baswedan sebagai capres pada Pilpres 2024 di NTB. rul
























