Seka Teruna yang Tak Buat Ogoh-ogoh di Badung Tetap Diberikan Dana Rp10 Juta

KEPALA Dinas Kebudayaan Kabupaten Badung, I Gede Eka Sudarwitha. foto: dok

MANGUPURA – Pemerintah Kabupaten Badung memberikan dana Rp10 juta kepada seka teruna (ST) untuk membuat ogoh-ogoh. Meski begitu tidak semua ST membuat ogoh-ogoh dalam menyambut Nyepi Caka 1944, Kamis 3 Maret 2022 itu. Bantuan akan tetap diberikan dan dapat digunakan dalam kegiatan lainnya.

Kepala Dinas Kebudayaan Kabupaten Badung, I Gede Eka Sudarwitha, menegaskan, dana bantuan diberikan untuk seluruh ST yang memenuhi syarat. Serta telah mengajukan permohonan dalam bentuk proposal. Bantuan Rp10 juta itu tidak hanya untuk membuat ogoh-ogoh melainkan untuk meningkatkan kreativitas.

Bacaan Lainnya

“Jadi permohonan dalam proposalnya tidak dalam pembuatan ogoh-ogoh. Tapi, dengan kegiatan lain seperti dharma shanti atau kegiatan lainnya yang berhubungan dengan adat, seni, agama dan budaya Bali kita,” ujar Sudarwitha, Jumat (21/1/2022).

Dikatakan Sudarwitha, pemberian dana kreativitas itu pun pastikan tidak melanggar aturan. Nomenklatur pemberian dana untuk seka teruna dalam berkegiatan kreativitas, adat, seni dan budaya serta agama yang bernafaskan agama Hindu saat pengerupukan.

“Karena bantuan yang diberikan ini berdasarkan proposal yang diajukan oleh seka teruna. Jika yang membuat ogoh-ogoh dalam proposalnya tersebut ya dana tersebut bisa digunakan untuk itu. Jika tidak ya bisa digunakan sebagai kegiatan lainnya tergantung proposal yang mereka ajukan dan tidak melenceng dari kreatifitas untuk kegiatan seni, adat dan budaya,” paparnya.

Baca juga :  Rapat KPU Dibatasi Maksimal Satu Jam

Ketua Maha Gotra Pasek Sanak Sapta Rsi (MGPSSR) Kabupaten Badung ini menambahkan, untuk pengajuan proposal dana kreativitas seka teruna ini, pihaknya masih lakukan koordinasi dan biasanya proposal mulai bisa diterima pada awal Februari 2022.

“Setidaknya nanti awal Februari tahun 2022 seka teruna di Kabupaten Badung sudah boleh mengajukan proposal untuk dana kreativitas ini,” terangnya.

Sementara itu, Ketua Majelis Desa Adat (MDA) Kabupaten Badung, AA Putu Sutarja, mengatakan, untuk pembuatan ogoh-ogoh serta pengarakan ogoh-ogoh bisa dilakukan atau tidak. Hal itu merupakan keputusan dari masing-masing desa adat.

“Kami di MDA sudah mendapatkan beberapa laporan dis majelis kecamatan di beberapa kecamatan di Kabupaten Badung sebagian besar desa adat tidak melaksanakan pengarakan ogoh-ogoh,” katanya.

“Karena ada kekhawatiran jika hal tersebut dilaksanakan tidak ada jaminan akan bisa memenuhi standarisasi protokol kesehatan Covid-19. Dikhawatirkan pula akan kembali meningkatkan kasus Covid-19 di wewidangan desa adat mereka masing-masing,” tegasnya.

Sutarja yang juga Bendesa Adat Kerobokan ini menambahkan, untuk di Kerobokan sudah pasti tidak melakukan pengarakan ogoh-ogoh tersebut. “Untuk kegiatan melasti, kami juga di Kerobokan serta di desa adat se-Kabupaten Badung, akan melaksanakan pemelastian ngubeng. Hal ini sama seperti tahun lalu,” katanya. nas

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.