Oleh Made Nariana
PEMILIK Partai Demokrat (PD) Susilo Bambang Yudhoyono (SBY marah kepada Anies sebagai Capres Kelompok Perubahan yang awalnya didukung Nasdem, PD dan PKS. Apa pasal?
Bagaimana tidak marah. Seminggu sebelumnya Anies Rasyid Bawesdan didampingi team 8, menghadap SBY di Geria Cikias menyampaikan rencana deklarasi Capres dan Cawapres. Eh… ternyata apa yang disampaikan beda denga apa yang terjadi terakhir.
Seperti disambar petir. SBY dan jajaran partainya terkejut, ternyata Anies setuju dipasangkan dengan Ketua Umum PKB Muimin Iskandar (Cak Imin) sebagai Cawapres menghadapi Pemilu 2024 nanti. SBY menyatakan kekecewaan karena PD dikhianati di perjalanan.
“Sebelumnya saya sudah diingatkan banyak teman maupun orang luar, supaya hati-hati berhubungan dengan orang tersebut. Namun saya tidak percaya. Kini kami merasa salah,” begitulah antara lain keluhan SBY karena ditelikung di jalan lurus.
Mantan Presiden RI tersebut juga mengatakan : “Kali ini kita salah. Semoga dapat dipakai pelajaran di lain kali”. Ia juga menyebutkan ada hikmah atas kejadian yang membuat semua kader PD di tanah air marah.
“Bayangkan, kalau hal itu terjadi dua hari sebelum penutupan pendaftaran Capres/Cawapres ke KPU. Apa jadi partai kita, PD ini,” kata SBY. Ia melanjutkan, kalau belum menjadi apa saja sudah bohong, bagaimana kelak kalau memiliki kekuasaan besar di negeri ini – mau diapakan rakyat Indonesia.
Nah…. Itu antara lain kemarahan SBY, karena partainya dikhianati koalisi, Capres Anies dan grup yang mereka bangga-banggakan selama ini.
Kalangan politik atau masyarakat boleh bilang ini politik. Politik boleh bohong, boleh menipu, boleh plin-plan, boleh mengkhianati teman? Atau politik boleh tanpa
etika? Entahlah.
Kamus politik mengenal, bahwa politik hanya sebuah kepentingan. Kalau sudah kepentingannya sama, mereka menjadi teman. Sebaliknya sekalipun teman, jika kepentingannya lain, menjadi lawan. Itulah politik, dan itu yang terjadi terhadap PD yang selama ini mengelu-elukan Anies Bawesdan sebagai Capres.
Kini PD dikhianati. Dibohongi, ditelingkung. Buat keputusan tanpa mengajak teman yang selama ini dipakai tameng kampanye ke mana-mana. Di mana-mana teman itu sudah ikut mempromosikan melalui media social, baliho, pamplet dan bahan “kampanye” ke kader partai.
Ehhhh…, ternyata bohong. Bagaimana jika nanti tokoh seperti ini berkuasa memiliki wewenang begitu besar? Apakah kita masih percaya dengan Capres macam
begini?
Saya merasakan, bagaimana kekecewaan kader PD di tanah air. Kemarahan mereka memuncak. Sampai panjang lebar diulas SBY melalui media social. Kalau yang mengaku taat beragama saja bohong, bahkan menggunakan ayat dan agama sebagai cara mencapai kemenangan sebagai pemimpin – bagaimana mereka yang lain?
Proses demokrasi kita mendapat pelajaran besar dari tragedi yang menimpa Partai Demokrat. Kekesalan dan kemarahan SBY begitu keras. Namun sebagai orangtua ia mengambil hikmah dari musibah itu.
Ia mengharap kesalahan tidak akan terulang, sebab rupanya terlalu percaya dengan kondisi sebelumnya. Konon sudah diingatkan, tetapi masih pengen mencoba.
Kita harus belajar dari track record seseorang yang sering dielu-elukan pendukungnya. Banyak yang mengaku jujur, ternyata wataknya maling. Banyak yang pandai di mimbar berpidato dan menata kata-kata, ternyata mengkhianati sahabatnya yang digandeng ke mana-mana! Apakah tokoh seperti ini patut kita percaya? (*)
























