Riset Pilkada Denpasar Selesai Pertengahan Januari, Lacak Pemantik Turunnya Partisipasi Pemilih

  • Whatsapp
KETUA KPU Denpasar, I Wayan Arsajaya, menyerahkan hasil rapat pleno penghitungan suara Pilkada Denpasar 2020, beberapa waktu lalu. Untuk menelisik kualitas Pilkada, KPU Denpasar menggandeng Undiknas untuk melakukan riset. Foto: hen
KETUA KPU Denpasar, I Wayan Arsajaya, menyerahkan hasil rapat pleno penghitungan suara Pilkada Denpasar 2020, beberapa waktu lalu. Untuk menelisik kualitas Pilkada, KPU Denpasar menggandeng Undiknas untuk melakukan riset. Foto: hen

DENPASAR – Riset terkait Pilkada Denpasar 2020 oleh Universitas Pendidikan Nasional (Undiknas) yang masih berjalan dipastikan selesai pada pertengahan Januari 2021 ini. Selain para pengampu kepentingan Pilkada, pandangan elemen pers juga menjadi salah satu pihak yang dibidik untuk bahan kajian. Demikian diungkapkan akademisi FISIP Undiknas, Dr. Nyoman Subanda, Rabu (13/1/2021).

Dia memaparkan, riset oleh Undiknas menyasar tentang efektivitas komunikasi politik yang dilakukan KPU, pemerintah daerah, paslon, dan pihak terkait lainnya dalam Pilkada Denpasar. Riset dilakukan secara proporsif dengan mewawancarai KPU, pemerintah, paslon, tokoh masyarakat, termasuk kalangan pers. Pemilihan sampel dilakukan acak, tapi jumlah kuesioner ditetapkan 1.000 lembar di seluruh Denpasar secara proporsional.  

Bacaan Lainnya

“Kalau bisa di setiap desa kami juga wawancarai atau dapat kuesioner. Tetapi yang jelas kepala desa wajib mengisi kuesioner itu. Kalau untuk kalangan pers, sementara ini belum ada kuesioner yang kembali ke kami,” terangnya.

Konklusi yang dicari, sambungnya, antara lain untuk menguak mengapa partisipasi masyarakat di Denpasar justru turun 2 persen dibanding Pilkada 2015. Hal tersebut berkelindan dengan bagaimana rekam jejak pengampu kepentingan politik yakni KPU, pemerintah daerah, dan paslon dalam berkomunikasi dengan masyarakat. Ketika KPU misalnya sudah berbuat terbaik untuk sosialisasi, mengapa partisipasi justru turun?

Baca juga :  Tambah PAD, Bumdes Kedewatan Ubud Sewakan Perahu Karet

“Pertanyaan itu yang kita gali jawabannya dengan riset. Kalau misalnya warga tidak tahu, berarti sosialisasinya kurang. Tapi kalau misalnya warga tahu tapi tetap tidak ke TPS, berarti enggan. Apa sebab mereka enggan? Itu yang kita kejar,” urai Subanda.

Hal lain yang dilacak adalah bagaimana sikap pemerintah daerah saat Pilkada, apakah partisipatif atau menyerahkan sepenuhnya ke KPU? Kemudian ditelusuri pula sejauh mana kiprah paslon yang berkontestasi dalam menggerakkan warga ke TPS. Garis besarnya, kata dia, riset akan menjawab apakah pemilih di Denpasar termasuk pemilih apatis, pro aktif, ataukah memang daya tarik paslon yang berkompetisi dirasa kurang menggairahkan.

“Kalau sudah lengkap baru kita bisa simpulkan apakah pemilih itu tidak tahu, abai, atau ada fokus lain (saat pemungutan suara). Kami harap pertengahan Januari sudah selesai, dan akhir Januari sudah bisa kami publikasikan hasilnya,” tandas Subanda.  

Seperti diwartakan sebelumnya, KPU Denpasar menggelar riset untuk mengkaji hasil pelaksanaan Pilkada Denpasar 2020 yang baru berlalu. Ada dua topik yang masuk dalam daftar dievaluasi, yakni efektivitas sosialisasi dan perilaku masyarakat dalam menggunakan hak pilih. Demikian diutarakan Ketua KPU Denpasar, I Wayan Arsajaya, Selasa (5/1/2021).

Menurutnya, riset dilakukan sebagai landasan untuk evaluasi pelaksanaan Pilkada 2020. Yang pertama dikaji yakni efektivitas sosialisasi yang dilakukan KPU untuk mengedukasi pemilih, sedangkan topik kedua adalah perilaku masyarakat dalam menggunakan hak pilih. Riset tidak hanya menelisik apa yang dilakukan KPU, tapi juga apa yang dilakukan peserta pilkada, pemerintah, dan seluruh jajaran penyelenggara.

Baca juga :  Jumat Peduli, Bupati Artha Sambangi Warga Sakit

“Kedua topik ini ada kaitan dengan tujuan menginformasikan secara ilmiah, memberi gambaran, dan untuk menjadi bahan pertimbangan meningkatkan kualitas, edukasi serta penyelenggaraan kepemiluan di Denpasar. Kami menggandeng FISIP Undiknas dan Universitas Warmadewa,” ulasnya.

Urgensi dari riset tersebut, terangnya, untuk mengukur bagaimana pelaksanaan Pilkada 2020 pada masa tidak normal, karena adanya pandemi Covid-19. Selain itu, adanya penurunan tingkat partisipasi pemilih pada Pilkada Denpasar 2020 sebanyak 2 persen dari 56 persen pada Pilkada 2015 lalu. Sebagai catatan, dari enam kabupaten/kota di Bali yang melangsungkan Pilkada 2020, hanya di Denpasar yang terjadi penurunan kehadiran pemilih ke TPS menggunakan hak suaranya. hen

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.