‘’Restocking’’ Babi untuk Selamatkan Peternak di Bali, GUPBI Bali Curhat ke Golkar

  • Whatsapp
NYOMAN Sugawa Korry (kiri) saat menerima curhat dari anggota GUPBI Bali terkait gonjang-ganjing harga daging babi yang merugikan para peternak, di DPD Partai Golkar Bali, Jumat (5/2/2021). Foto: hen
NYOMAN Sugawa Korry (kiri) saat menerima curhat dari anggota GUPBI Bali terkait gonjang-ganjing harga daging babi yang merugikan para peternak, di DPD Partai Golkar Bali, Jumat (5/2/2021). Foto: hen

DENPASAR – Naik pesatnya harga daging babi di pasaran belakangan ini tidak serta merta berarti para peternak babi di Bali sedang girang memetik laba. Kondisi ini justru membuat gonjang-ganjing peternak, karena kenaikan harga disinyalir justru dinikmati oknum tertentu.

Belum lagi naiknya harga malah dipakai justifikasi untuk memasukkan bibit babi “sampah” ke Bali, yang diduga terjangkit virus Asian Swine Fever (ASF) alias flu babi. Kondisi itu terkuak saat audiensi Gabungan Usaha Peternak Babi Indonesia (GUPBI) Bali ke DPD Partai Golkar Bali, Jumat (5/2/2021).

Bacaan Lainnya

Menurut Ketut Hari Suyasa dari GUPBI Bali, populasi babi di Bali saat ini hanya tersisa sekira 10 persen dibanding sebelum ada wabah ASF pada awal 2020 silam. Dia tidak membantah peternak sementara mendapat untung, tapi kondisi ini lama kelamaan juga mempengaruhi eksistensi peternak ke depan. Yang paling dirugikan adalah masyarakat, dan dia menyayangkan di tengah kondisi ini ada upaya memasukkan babi ke Bali.

Suyasa mensinyalir babi yang dikirim ke Bali dengan harga murah itu adalah babi yang terjangkit virus ASF. Alasannya, harga daging babi di Jakarta saat ini lebih tinggi daripada di Bali. ‘’Logikanya mereka akan kirim ke Jakarta yang harganya lebih tinggi, tapi kenapa memilih ke Bali yang lebih murah? Karena yang dimasukkan itu suspek ASF dari Solo,’’ keluhnya di hadapan Ketua DPD Partai Golkar Bali, Nyoman Sugawa Korry.

Baca juga :  Debat I, Paslon Pilkada Denpasar Diuji Strategi Pengendalian Corona

Lebih jauh diuraikan, di pasaran harga tetap Rp90 ribu, padahal di tukang potong hanya Rp28 ribu per kilo. Jika babi “sampah” dari luar Bali masuk pun tidak akan membuat harga turun di konsumen. Justru dikhawatirkan akan ada gelombang kedua wabah flu babi di Bali. Yang paling dirugikan adalah masyarakat karena mengonsumsi daging tidak sehat.

‘’Kami akan mengirim babi dari Bali dengan harga 50 ribu ke Jakarta sebagai bukti pasar Jakarta terbuka. Kita harus menemukan dan melakukan tindakan agar situasi kembali normal,’’ pintanya.

Menurut Sugawa, harga daging babi tinggi karena memang stoknya langka. Dia sepakat belum tentu peternak untung, karena sebelumnya mereka merugi akibat ternaknya dihajar wabah flu babi.

Daging babi yang beredar di pasaran saat ini adalah sisa dari peternakan yang masih selamat tahun lalu. Karena itu Sugawa sepakat dengan GUPBI untuk menindaklanjuti aspirasi tersebut, antara lain dengan restocking atau penyetokan kembali babi di Bali.

‘’Restocking harus dilakukan, pengadaannya oleh pemerintah untuk mengatasi dampak Covid-19. Kalau untuk sektor pariwisata kan sudah ada stimulus, untuk peternak babi terdampak ini yang belum,’’ ucap Wakil Ketua DPRD Bali tersebut.

Selain menopang kekuatan ekonomi di Bali, jelasnya, babi juga memiliki nilai strategis di bidang adat dan budaya. Sebab, tidak ada ritual agama Hindu di Bali yang tidak menggunakan sarana daging “guik” tersebut. Menimbang keadaan itu, sambungnya, Golkar mendesak pemerintah menyiapkan anggaran cukup untuk bibit sehat. Pemerintah juga didesak melakukan upaya menghilangkan flu babi dengan penanganan cukup, termasuk dengan penyuluhan. 

Baca juga :  Disdikpora Denpasar Gelar Lomba Bulan Bahasa Bali

‘’Golkar melihat masalah perbabian ini sangat penting karena menyangkut hidup orang banyak, adat, dan budaya. Kami instruksikan semua fraksi Golkar di Bali untuk mendukung pengadaan bibit babi, sebagai momentum kebangkitan ekonomi,’’ serunya. 

‘’Kami apresiasi respons positif Golkar karena menyuarakan rakyat. Kami minta dukungan politik untuk jaga peternak babi dengan restocking bibit,’’ sela Suyasa. 

Ditanya mengapa datang ke Golkar langsung, alih-alih ke DPRD Bali, Suyasa menjawab karena Sugawa sebelumnya diketahui menyuarakan soal kenaikan harga daging babi di media. Dia menganggap apa disuarakan Sugawa merepresentasikan kegalauan GUPBI, dan minta waktu untuk audiensi untuk mendukung perjuangan mereka. ‘’Ini tidak ada urusan dengan politik. Kami minta dukungan siapapun untuk memperjuangkan kepentingan orang banyak, kami-kami ini,’’ tegasnya.

Sugawa menambahkan, secara teknis dia akan memperjuangkan ada tambahan anggaran untuk peternak di pembahasan APBD Perubahan. Minggu depan saat rapat Badan Anggaran DPRD Bali dia akan mendorong hal tersebut. Selain penanganan kesehatan fisik, lugasnya, kesehatan ekonomi masyarakat, termasuk peternak babi, juga wajib diperbaiki.

‘’Kalau bisa pemerintah juga memanggil pabrik pakan untuk supaya harga bisa lebih murah, supaya kami dapat mengurangi biaya produksi,’’ pinta Suyasa di akhir pertemuan. hen

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.