Polisi Ringkus Pengguna, Kurir dan Pengedar Ganja

  • Whatsapp
SATNARKOBA Polres Tabanan merilis tiga tersangka dalam tindak pidana narkotika jenis ganja. Foto: gap

TABANAN – Satnarkoba Polres Tabanan meringkus tiga tersangka dalam tindak pidana narkotika jenis ganja. Para tersangka ditangkap pada awal November 2021 di lokasi berbeda, dengan sejumlah barang bukti.

Tersangka dalam kasus ini, I Gede Ari Setiawan (25) alias Ari beralamat di Banjar Dinas Wongaya Bendul, Desa Wongaya Gede, Kecamatan Penebel. Dari tangan Ari, polisi menyita sejumlah barang bukti. Antara lain daun dan biji ganja 0,51 gram, dua lembar kertas papers rokok, satu korek gas, dan sebuah celana panjang.

Bacaan Lainnya

“Dalam laporan kasus ini, peran Ari sebagai penyalahguna atau pengguna ganja. Dia dijerat dengan Pasal 111 ayat (1) tahun 2009 tentang Narkotika, dengan ancaman hukuman penjara paling singkat empat tahun, paling lama 12 tahun, dan denda paling sedikit Rp800 juta, paling banyak Rp8 miliar,” ungkap Kasatnarkoba AKP I Gede Sudiarna Putra, seizin Kapolres Tabanan, Rabu (17/11/2021).

Dari tersangka Ari kemudian berkembang dengan keterlibatan dua tersangka lainnya, yang kini juga meringkuk di ruang tahanan Polres Tabanan. Dua tersangka hasil penyelidikan dan pengembangan lebih lanjut yaitu I Nengah Diksa Prabawa (22) beralamat di Banjar Dinas Wongaya Kaja, Desa Wongaya Gede, Penebel, dan I Putu Krisna Mukti (22) alias Rere, beralamat di Jalan Durian No. 2, Tabanan.

Baca juga :  Cok Pemecutan Restui Amerta di Pilkada Denpasar

Diksa disangkakan sebagai kurir, sedangkan Rere sebagai pengedar ganja. Mereka kedapatan memiliki, menyimpan, dan menguasai narkotika jenis ganja tanpa izin. Polisi juga menyita sejumlah barang bukti dari kedua tersangka. Antara lain satu plastik berisi daun dan biji ganja 0,99 gram, satu linting daun dan biji ganja 0,39 gram, tiga lembar kertas papers rokok, dan dua handphone.

“Mereka (Diksa dan Rere) pun dijerat dengan Pasal 111 ayat (1) tahun 2009 tentang Narkotika, dengan ancaman hukuman penjara paling singkat empat tahun, paling lama 12 tahun, dan denda paling sedikit Rp800 juta, paling banyak Rp8 miliar,” jelas Sudiarna Putra. gap

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.