Polisi Kejar Pembunuh Perempuan di Kamar Kontrakan

  • Whatsapp
PETUGAS BPBD Kota Denpasar mengevakuasi jenazah Sri Widayu (48) ke RSUP Sanglah. Foto: ist
PETUGAS BPBD Kota Denpasar mengevakuasi jenazah Sri Widayu (48) ke RSUP Sanglah. Foto: ist

DENPASAR – Sri Widayu (48) ditemukan tewas dengan wajah berlumuran darah di dalam kamar kontrakannya di Jalan Betngandang, Sanur, Denpasar Selatan, Bali, Selasa (2/2/2021) sekitar pukul 20.30 Wita. Korban diduga dianiaya menggunakan tabung gas elpiji hingga tewas. Polisi masih mengejar pembunuh wanita kelahiran Banyuwangi, Jawa Timur itu.

Menurut sumber petugas, saksi Nurbadri (40) yang tinggal di samping warung korban sempat mendengar suara ribut-ribut dari arah warung korban. ‘’Saksi saat kejadian sedang sholat. Setelah ada kegaduhan, saksi keluar kamar melihat ke warung,’’ kata sumber petugas.

Bacaan Lainnya

Setibanya di depan warung, Nurbadri melihat dua pria serta perempuan berkerudung pergi mengendarai motor cepat-cepat menuju arah utara. Awalnya dia tidak curiga karena fokus melihat keadaan pemilik warung yang sempat teriak merintih kesakitan.

Hanya saja, Nurbadri tidak berani masuk ke dalam kamar Sri Widayu. Meski saat itu, pintu kamar terbuka. Lalu saksi memanggil nama korban, namun tidak ada jawaban. ‘’Kamar dan warung korban satu lokasi. Korban menjual kripik pisang. Korban tinggal sendiri di TKP, setelah pisah ranjang dengan suaminya 3 tahun lalu,’’ imbuhnya.

Baca juga :  Komang Dyah Setuti Kembali Nahkodai Persani Badung

Dilanjutkan sumber petugas, kemudian saksi menghubungi pemilik kos Pak Mangku. Ketika pemilik kos datang, saksi bersama warga lainnya masuk ke dalam kamar korban. Korban sudah dilihat dalam posisi telentang di lantai kamar dengan kondisi di bagian kepala berdarah. ‘’Kening dan kepala bagian korban berdarah,’’ tegas sumber.

Sementara Suwarno (53) yakni suami korban, mengaku pisah ranjang sejak 3 tahun dengan Sri Widayu. Walau demikian, Suwarno dan anaknya yang sulung, Eko Agus Wahyudi (27) hampir setiap hari berkomunikasi dengan korban. ‘’Saya yang bantu jualan keripik pisang istri saya. Namun sebelum itu, saya jualan nasi jinggo keliling,’’ kata Suwarno.

Hal senada juga dikatakan Eko Agus Wahyudi, ibunya ngontrak di TKP sejak dua tahun lalu. Dia mengaku sering mengunjungi ibunya. ‘’Saya kos di tempat lain. Saya dan bapak terpukul atas kematian ibu,’’ ucapnya dengan wajah sedih.

Menurut Eko Agus Wahyudi, selama ini ibunya tidak pernah bercerita memiliki masalah atau musuh. Bahkan ibunya sangat ramah terhadap orang lain. ‘’Saya gak tahu dia punya utang atau lainnya. Sebab tidak pernah cerita,’’ tegasnya.

Kasubag Humas Polresta Denpasar, Iptu Ketut Sukadi, mengatakan, motif penganiayaan berujung pembunuhan terhadap pemilik Warung Barokah, Sri Widayu masih diselidiki.

‘’Dari keterangan tetangga korban (Nurbadri), usai kejadian ada tiga orang keluar dari TKP. Satu perempuan pakai kerudung dan dua pria. Sebelum mereka pergi, saksi Nurbadri sempat mendengar percakapan seseorang ke korban yang mengatakan, (sudah empat bulan kamu),’’ beber Sukadi. ana

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.