Pendidikan Anak Usia Dini Jangan Terhenti karena Corona

  • Whatsapp
KETUA Himpunan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Anak Usia Dini Indonesia (Himpaudi) Kota Denpasar, IGA Ayu Putu Darmayanti. Foto: ist
KETUA Himpunan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Anak Usia Dini Indonesia (Himpaudi) Kota Denpasar, IGA Ayu Putu Darmayanti. Foto: ist

DENPASAR – Pandemi virus corona yang mengepung dunia belum bisa diredam. Penyebarannya yang masif dan relatif cepat membuat orang-orang ciut. Pandemi Covid-19 tidak boleh menghentikan proses pendidikan, utamanya pendidikan untuk anak usia dini. Karena itu adalah usia krusial puncak perkembangan anak yang mempengaruhi masa depannya.

‘’Usia dini adalah usia emas dalam membangun pondasi belajar dan hidup mereka, semua dimulai dari usia dini,’’ kata Ketua Himpunan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Anak Usia Dini Indonesia (Himpaudi) Kota Denpasar, IGA Ayu Putu Darmayanti, Selasa (23/2/2021)

Bacaan Lainnya

Darmayanti menegaskan, PAUD bagi perkembangan anak usia dini tidak boleh hilang karena pandemi Covid-19. Di sinilah pentingnya peran orang tua dalam berkomunikasi dengan para pendidik untuk memastikan aktivitas belajar mengajar bagi anak usia dini tetap berjalan dengan baik di rumah sesuai dengan kebutuhan perkembangan anak.

‘’Orang tua membimbing berbagai aktivitas anak di rumah dan mengamati  segala hal yang dilakukan anak, seperti: apa yang diucapkan anak, termasuk ekspresi wajah, gerakan, proses belajar dan hasil karya anak, di setiap sudut ruang baik di dalam maupun di luar rumah. Selain tentunya, orang tua juga perlu mengamati pertumbuhan fisik dan kondisi psikologis anak, dengan berkonsultasi kembali pada para ahlinya segera setelah pandemi mereda dan fasilitas kesehatan dibuka,’’ ulasnya.

Baca juga :  Satu Warga Bangli Sembuh, Sisanya Masih Dirawat

Dia menyebutkan, setiap manusia lahir ke dunia dengan seluruh sel otak yang jumlahnya bisa mencapai lebih dari 100 triliun sel, bergantung dari kualitas kehamilan. Namun hal ini baru dapat berfungsi hanya dengan stimulasi.

Usia 0-2 tahun merupakan masa krusial pada anak. Apabila sel otaknya tidak tersambung atau terstimulasi dengan baik, terjadilah fase penghapusan sel otak. Dia melanjutkan, hal ini ditentukan oleh kualitas dan kuantitas stimulasi karena setiap detik terjadi 1,684 juta sambungan sel otak.

‘’Sedangkan, untuk kualitas stimulasi terkait pada aspek perkembangan atas apa saja yang distimulasikan pada anak dengan cara yang tepat atau tidak,’’ tambah Darmayanti.

Anak di usia dini belajar lewat bermain aktif, sehingga orang tua pun harus bisa memberi fasilitas yang baik. Maka, orang tua harus bisa mengubah pola pikir bahwa anak yang bermain adalah pertanda dirinya sedang mengasah kecerdasan. Lebih lanjut Damayanti membagikan tentang beberapa hal yang harus diperhatikan orang tua demi keberhasilan keberlangsungan pendidikan anak usia dini.

Menurutnya, anak sedari dini harus dilatih berpikir kritis atau critical thinking. Ini disebabkan karena terlalu banyaknya informasi yang masuk di era digital seperti sekarang. Anak terlatih untuk memilah informasi mana yang berguna, mana yang tidak.

Selain itu, anak juga harus dilatih untuk berpikir kreatif dan mengembangkan kemampuan kognitif agar memiliki daya juang lebih, terlebih di era pandemi seperti ini. Selain nutrisi gizi, orang tua dihimbau untuk tidak lupa memberikan nutrisi hati kepada anak agar anak tidak memiliki trauma atau luka masa kecil yang bisa dibawa hingga dewasa nanti.

Baca juga :  Seluruh Bali Laporkan Penambahan Kasus Positif Covid-19, Bangli Penyumbang Terbanyak

Para orang tua pun harus paham pola komunikasi yang baik dan benar dengan anak karena itu juga merupakan aspek stimulasi yang penting pada anak usia dini. ‘’Sedini mungkin agar dapat mengembangkan karakter dan life skill. Guru dapat membuat rencana kegiatan pembelajaran, orang tua dapat mengimplementasikan rencana kegiatan dari rumah,” pungkasnya. tra

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.