POSMERDEKA.COM, MATARAM – Pilkada NTB 2024 diyakini akan menjadi panggung bagi anak-anak muda. Munculnya ketidakpuasan atas kinerja petahana atau mantan petahana, menjadi pemantik masyarakat mencari alternatif pemimpin yang lebih baik untuk bisa mengatasi persoalan daerah.
“Tak ada yang bisa menampik saat ini banyak masyarakat merindukan ada pemimpin lebih segar, inovatif, dan memiliki visi jangka panjang. Para pemimpin muda memiliki semua itu,” sebut Direktur Lembaga Kajian Sosial dan Politik M-16, Bambang Mei Finarwanto, di Mataram, Minggu (9/4/2023).
Kemenangan Gibran Rakabuming Raka sebagai Wali Kota Solo pada Pilkada 2020, sebutnya, menunjukkan anak muda mampu menjadi alternatif pemimpin daerah yang kompeten. Pun mampu merespons kebutuhan masyarakat dengan baik. Kata Bambang, anak muda dengan kreativitas, keberanian, dan kemampuan untuk berpikir out of the box mampu menawarkan solusi lebih tepat sasaran dan adaptif sesuai perkembangan zaman.
“NTB memiliki sejumlah kandidat pemimpin muda yang memiliki kualitas memadai sebagai seorang pemimpin. Mereka jago kemampuan dalam manajemen dan juga unggul dalam hal kepemimpinan dan analisis kebijakan. Selain itu, mereka juga memiliki jaringan yang luas dan aktif terlibat dalam kegiatan masyarakat,” kata dia tanpa menyebut nama.
Jika arus keinginan masyarakat yang diklaim merindukan pemimpin lebih segar, inovatif, dan memiliki visi jangka panjang ini terus menggema, dia memprediksi petahana dan mantan petahana akan terpental dari Pilkada NTB 2024.
Menurut Bambang, NTB sudah memberi kesempatan kepada pemimpin yang “tidak muda lagi” pada Pilkada 2018. Namun, tiga tahun terakhir tata kelola keuangan daerah dituding amburadul. Utang Pemprov NTB menumpuk hingga ratusan miliar kepada rekanan/kontraktor yang menuntaskan proyek pemerintah; situasi yang tidak pernah terjadi dalam sejarah Bumi Gora sebelumnya.
Indeks Pembangunan Manusia (IPM) NTB hingga kini masih bercokol di posisi 29 dari 34 provinsi. Posisi tersebut tak bisa menutup mata betapa sektor pendidikan, sektor kesehatan seperti usia harapan hidup, dan juga pengeluaran riil per kapita masyarakat NTB, berada di posisi nomor enam dari bawah. “Akan sesat pikir dan sangat melawan logika jika ada yang menyebut posisi enam dari bawah adalah sebuah prestasi,” sindirnya.
Bila diurai dan dibedah satu per satu, dia menyebut banyak sisi yang bisa dikemukakan sebagai telaah kritis kepemimpinan di NTB saat ini. Kinerja tidak memuaskan petahana menjadi salah satu faktor paling penting untuk tidak melanjutkan kepemimpinan di periode berikutnya.
Mengenai pandangan minor pemimpin muda identik dengan minim pengalaman, dia menegaskan hal itu tidak lagi relevan. Dia memuji bagaimana Gibran sebagai pemimpin muda mampu membuat lompatan bagi daerah dengan inovasi di sektor pariwisata, pendidikan, dan perekonomian.
“Itu lebih dari cukup menunjukkan bukti betapa pemimpin muda bisa fokus kepada kebutuhan masyarakat, dengan memberikan respons cepat dan tepat. Pemimpin muda mampu menggalang partisipasi masyarakat, memiliki kemampuan beradaptasi dengan perubahan zaman yang cepat, dan tentu saja memiliki integritas dan moralitas,” ulasnya, tanpa menyinggung faktor Gibran sebagai anak Presiden Jokowi.
Hanya, kelemahan calon pemimpin muda, menurutnya adalah pendanaan kampanye. Bagi dia, anak-anak muda yang bertarung di pilkada dapat menyiasati minimnya dana kampanye dengan membangun relasi kredibel dengan masyarakat dan media jauh-jauh hari. Selain itu, mengoptimalkan penggunaan media sosial juga bisa menjadi salah satu alternatif.
“Yang tidak kalah pentingnya, tentu pemimpin muda harus berkolaborasi dengan partai politik yang menjadi pintu masuk untuk mendapatkan pembiayaan dalam kampanye,” sarannya. rul
























