MDA Bali Larang Pengarakan Ogoh-ogoh, Kasus Positif Corona Masih Tinggi

  • Whatsapp
SUASANA rakor yang digelar Kanwil Kementerian Agama Provinsi Bali di The Vasini Hotel, Denpasar, Rabu (10/2/2021) dengan menerapkan protokol kesehatan yang ketat. foto: ist

DENPASAR – Majelis Desa Adat (MDA) Provinsi Bali melarang tradisi arak-arakan ogoh-ogah dalam rangkaian perayaan Nyepi Caka 1943, pada 14 Maret 2021. Hal tersebut disampaikan Bendesa Agung MDA Provinsi Bali, Ida Penglingsir Agung Putra Sukahet, saat mengikuti rapat koordinasi (rakor) yang diadakan Kantor Kementerian Agama Provinsi Bali, di The Vasini Hotel, Denpasar, Rabu (10/2/2021).

Menurutnya, kebijakan ini karena melihat kondisi pandemi Covid-19 yang masih melanda Bali. Kasus terkonfirmasi positif harian dari transmisi lokal masih tinggi. “Pawai atau arak-arakan ogoh-ogoh ini bukan sesuatu yang wajib dalam ritual Nyepi. Tetapi merupakan budaya yang berkaitan dengan makna Nyepi, sehingga bisa ditiadakan,” jelasnya.

Bacaan Lainnya

Sukahet menambahkan, di masa pandemi ini, masyarakat dihimbau agar melaksanakan protokol kesehatan dengan menerapkan 6M. Yaitu memakai masker, menjaga jarak, mencuci tangan, mengurangi bepergian, mencegah kerumunan, dan meningkatkan imun tubuh. “Karena itu, maka pawai ogoh-ogoh tidak diadakan,” pungkasnya.

Sementara itu, Kakanwil Kementerian Agama Provinsi Bali, Komang Sri Marhaeni, menyampaikan bahwa rakor dengan tema ‘Tetap Jaga Kerukunan di Masa Pandemi Covid-19 menuju Indonesia Rukun”, bertujuan untuk membuat kesepakatan bersama yang akan ditindaklanjuti kabupaten/kota se-Bali.

Baca juga :  Denpasar Zona Merah, Rai Mantra Ajak Fokus Penangan Covid-19 Sesuai Peta Sebaran

“Tujuannya, walaupun di tengah pandemi Covid-19, Catur Brata Penyepian harus tetap berjalan dengan baik. Bali tetap rukun dan damai,” ungkapnya.

Dia menjelaskan, rapat ini juga untuk menindaklanjuti surat keputusan baik dari Gubernur Bali, PHDI Provinsi Bali dan Majelis Desa Adat (MDA) Provinsi Bali tentang pelaksanaan Nyepi di tengah pandemi. “Jadi hasil kesepakatan ini akan kami sosialisasikan hingga ke grassroad,” tandasnya sembari menegaskan, Kanwil di kabupaten/kota tidak lagi membuat keputusan bersama.

Sebelumnya, Ketua Panitia IB Dibya menyampaikan rapat koordinasi ini membahas tentang seruan Nyepi Caka 1943. Tujuan rapat ini, lanjut dia, untuk menyamakan persepsi antar umat beragama jelang prosesi pergantian tahun baru caka ini.

“Hari Raya Nyepi merupakan momentum dalam rangka meningkatkan toleransi antar umat beragama, di mana dalam pelaksanaannya sangat unik dan satu-satunya di dunia yang bisa menghentikan kegiatan selama 24 jam,” pungkasnya. alt

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.