GIANYAR – Tawur Nawa Gempang merupakan tawur yang cukup besar untuk menyeimbangkan alam agar berkesinambungan. Pesan itu diutarakan Bupati Gianyar, I Made Mahayastra, saat melaksanakan upacara Tawur Nawa Gempang di Pura Pucak Pausan, Payangan, Sabtu (5/11/2022).
Upacara serupa pernah dilaksanakan oleh mantan Gubernur Bali, Dewa Made Beratha, di Pura Pucak Pausan, untuk memohon keselamatan alam dan masyarakat Bali. Dipilihnya Pura Pucak Pausan sebagai tempat pelaksanaan upacara, mengingat belakangan di wilayah tersebut banyak terjadi bencana alam. Pura Pucak Pausan merupakan puncak tertinggi di Gianyar, yang diharap mampu memberi sinar suci kepada seluruh alam dan masyarakat Gianyar.
“Bermula tanggal 9 Oktober, di Bali dan Gianyar khususnya banyak terjadi bencana akibat hujan lebat. Ada longsor, banjir atau rumah hanyut. Bahkan dalam dua hari ada 28 titik bencana dengan kerugian mencapai puluhan miliar,” jelas Mahayastra.
“Daerah sini paling banyak terjadi bencana, dan Pura Pucak Pausan merupakan puncak tertinggi di Gianyar. Semoga dari sini disinari keselamatan, makanya upacara terpusat di sini, serta Pura Pucak Pausan merupakan situs perjalanan Rsi Markandya,” sambungnya.
Ketua PHDI Gianyar, Jro Mangku Wayan Ardana, menuturkan, Tawur Nawa Gempang patut dilaksanakan manakala ada kepelikan atau bencana alam. Juga ada kematian tidak wajar seperti gantung diri atau tertimbun longsor.
Hal tersebut sesuai lontar Roga Sangara Bumi. Upacara tersebut bertujuan memohon dan menjaga atau mengembalikan keseimbangan alam, seperti yang tertuang dalam lontar Tatwa Kalantaka. Pun umat Hindu (di Bali) sesuai keyakinannya wajib melaksanakan upacara mecaru.
“Mecaru terdiri dari kata caru yang artinya baik, dan mecaru adalah membuat baik, atau menyeimbangkan kembali agar normal. Mecaru juga sebagai penebusan dosa manusia atas kekeliruan-kekeliruan yang dilakukan secara tidak sengaja,” imbuhnya.
Dengan mecaru, imbuhnya, manusia mempersembahkan kepada unsur bhuta kala agar bisa mendukung atau nyomya bhuta kala agar menjadi dewa. Dengan demikian tidak mengganggu kehidupan manusia serta alam, agar alam kembali normal dan seimbang.
Setelah melakukan prosesi upacara, pemangku membagikan nasi tawur agar dibagikan ke desa adat sebagai simbol telah dilakukan upacara Tawur Nawa Gempang.
“Ajengan (hidangan) nasi tawur sebagai simbolisasi menormalkan kembali, disebar di masing-masing desa sebagai suguhan kepada bhuta kala yang ada di sana, bahwa kita sudah melakukan persembahan yang terpusat di Pura Pucak Pausan,” pungkas Jro Mangku Ardana. adi
























