Membumikan Pancasila Sebagai Penangkal Ideologi Transnasional, PDIP Siapkan Strategi Adaptif dan Kekinian

  • Whatsapp

MATARAM – Akademisi Fakultas Hukum Universitas Mataram (Unram), Dr. Lalu Wira Priatna, menegaskan Pancasila sebagai sumber dari semua sumber hukum di Indonesia. Untuk itu, yang dibutuhkan saat ini dan ke depan adalah aturan-aturan yang memandu untuk mengimplementasikan Pancasila dalam kehidupan sehari-hari.

“Di era post truth (pasca-kebenaran), agama dan teknologi harus dikomparasikan. Setiap hukum sebagai kebijakan negara, di pusat atau daerah, harus mencerminkan nilai-nilai dari sila-sila Pancasila,” sebutnya saat menjadi narasumber dalam webinar Bulan Bung Karno yang diselenggarakan DPC PDIP Kota Mataram, Senin (21/6/2021).

Bacaan Lainnya

Menurutnya, jika mau jujur melihat kenyataan, praktik kehidupan berbangsa, bernegara dan bermasyarakat masih jauh dari pencerminan implementasi nilai-nilai Pancasila. Pemerintah punya ruang menjadikan regulasi apapun bentuknya harus diinspirasi dan dilandasi nilai-nilai Pancasila. Sebab, ujarnya, tantangan ke depan adalah arus teknologi yang membuat dunia makin sempit.

Informasi di belahan dunia lain, ulasnya, hanya dalam tempo detik dapat disebarluaskan. Menimbang situasi itu, dia menilai menjadi tugas penting bagi kader PDIP dan siapapun yang menjadi penerus ajaran Bung Karno, untuk menggemakan kembali Pancasila dalam semua sendi kehidupan berbangsa dan bernegara.

Baca juga :  Pembukaan Pariwisata Ubud Tunggu Tuntas Vaksinasi Kedua

“Era ini ditandai dengan banjir informasi yang menjadi tantangan setiap negara. Negara-negara yang tidak memiliki ideologi yang kuat akan rentan untuk tenggelam. Suriah menjadi bukti nyata kegagalan sebuah negara pada era banjir informasi saat ini,” lugasnya.

Ketua PWNU NTB, Prof. TGH Masnun Tahir, mengingatkan, dunia virtual sejatinya mampu meringankan peran agama. Jika dulu ketika ada orang mati diwajibkan datang takziyah, sekarang cukup kirim gambar tanda duka. “Semoga tradisi ini dijawab dan diantisipasi agar agama tidak ditinggalkan generasi milenial,” pesannya.

Akademisi UIN Mataram itu berharap inovasi, terutama dalam mempertahankan nilai-nilai agama, harus terus dilakukan. Sebab, kini eranya post truth, antara yang hoaks dengan yang nyata beda-beda tipis. Dia mengajak semua pihak bekerja kolektif, melalui pengembangan iptek maupun inovasi, dalam mempertahankan nilai-nilai agama.

Mengomparasikan agama dan teknologi, cetusnya, harus menjadi sebuah keharusan. Sebab, saat ini agama dan teknologi sangat berpotensi dijadikan propaganda asing, khususnya penyebaran fitnah, ujaran kebencian, bahkan radikalisme. Maka, siapapun yang mengaku bangsa Indonesia, termasuk kader PDI Perjungan Kota Mataram, harus memperkuat agama dengan cara memahaminya dengan benar.

“Selain teknologi, kita harus bernalar, berlogika. Akademisi harus punya amalan berupa hafalan Asmaul Husna, bahkan hapalan Quran sebagai solusi untuk menjawab era revolusi industri 4.0 ini. Karena, yang fisik itu pasti digerakkan yang metafisik,” sambungnya.

Baca juga :  Diduga Penodaan Agama, AWK Dilaporkan ke Polda Bali

Ketua DPC PDIP Kota Mataram, Made Slamet, menjelaskan, webinar nasional itu dalam rangka peringatan Bulan Bung Karno. Kata dia, menjadi kewajiban para kader partai guna membumikan Pancasila. Dia juga mengatakan alasan partainya melakukan banyak kegiatan yang diawali dengan bersih-bersih pantai, menanam pohon di sepanjang Kali Jangkuk dan lomba pidato mirip Bung Karno. “Itu karena ada sekelompok orang yang ingin merongrong dan merusak Pancasila, maka kami bersiap untuk melawan kaum itu,” sergahnya.

Wakil Ketua DPD PDIP NTB, Hakam Ali Niazi, menimpali, kewajiban membumikan Pancasila dengan adaptif sesuai pola keterkinian menjadi kewajiban kader partai. Hal ini dipicu banyak masyarakat, khususnya kalangan milenial, lebih hapal para artis dan lagu terkini dibandingkan isi dalam sila Pancasila.

“Ini tantangan kita agar pandangan hidup Pancasila tidak tergerus bahaya transnasional. Maka kita harus kreatif membumikan Pancasila, dengan tidak melupakan tradisi lokal yang berkembang di tengah-tengah masyarakat,” lugasnya memungkasi. rul

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar anda diproses.