Masyarakat NTB Jangan “Terhipnotis”, Hasil Survei Dinilai Hanya Hiburan Politik

DIREKTUR M-16, Bambang Mei Finarwanto. Foto: ist

MATARAM – Lembaga Kajian Sosial Politik M-16 menilai keberadaan berbagai lembaga survei sebatas hiburan politik semata. Sebab, lembaga survei juga dihadirkan guna menyemarakkan kontestasi pesta demokrasi, khususnya menjelang Pilpres maupun Pilkada 2024.

Karena itu, publik diharap tidak mudah hanyut oleh pesona beragam publikasi media yang dilakukan lembaga survei terhadap kandidat. Sebab, hal itu tidak mencerminkan perolehan suara di TPS. “Hasil kajian lembaga survei tidak boleh dianggap kepastian kemenangan,” seru Direktur M-16, Bambang Mei Finarwanto, Jumat (4/11/2022).

Read More

Sebagai alat untuk melihat agregasi elektabilitas, akseptabilitas dan popularitas, hasil kajian dan analisis lembaga survei bisa dijadikan pegangan dalam menilai peta kekuatan politik maupun kecenderungan persepsi publik.

Dalam pengambilan sampel responden, setiap lembaga survei selalu menyebutkan durasi waktu, metodologi, maupun jumlah responden. Hal ini karena menyangkut persepsi responden saat disurvei.

“Makanya lembaga survei harus melakukan survei berkali-kali dalam rentang waktu tertentu untuk mengukur cerminan. Misalnya pergeseran migrasi persepsi dukungan terhadap paslon tertentu pada waktu dilakukan survei,” ucap Bambang.

Karena hasil survei lahir dari kajian empirik akademik yang dapat dipertanggungjawabkan, menurutnya bergantung publik bagaimana menyikapi beragam hasil survei. Misalnya soal Pilpres, mana figur yang bisa dipercaya atau sekadar pencitraan.

Dia mengklaim poling bisa dijadikan alternatif karena lebih praktis, efisien dan lebih terlegitimasi, bergantung jumlah responden dan tingkat sebarannya.

“Poling bisa jadi menjadi antitesa dari survei politik karena prosedurnya tidak rumit. Makin banyak responden yang terlibat, makin kuat legitimasinya,” papar Bambang.

Meski poling secara metodologi terlihat sederhana, tapi hasilnya dapat dijadikan panduan untuk tahu peta dukungan publik. “Dari perspektif legitimasi, poling lebih kuat jika jumlah responden berkali-kali lipat dengan tingkat sebaran yang merata di semua strata sosial,” ucapnya menandaskan. rul

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.