Masuk Poling Cagub, Wigunawati Tersanjung Disetarakan Gubernur Koster, Sebut Perempuan Mulai Diperhitungkan

SRI Wigunawati saat menjadi narasumber di DPD Partai Golkar Bali. Namanya masuk dalam poling sosok yang pantas menjadi calon Gubernur pada Pilgub 2024 mendatang. Foto: hen

DENPASAR – Nama politisi Partai Golkar, DAP Sri Wigunawati, tertera dalam pollingkita.com untuk poling calon Gubernur Bali pada Pilgub 2024 nanti. Ada 15 nama tokoh di Bali, antara lain Gubernur petahana Wayan Koster, Bupati Badung Nyoman Giri Prasta, anggota DPR RI Gde Sumarjaya Linggih atau Demer sampai pensiunan perwira tinggi Polri, I Gde Alit Widana.

Wigunawati merupakan satu-satunya perempuan di tengah “lautan” sosok laki-laki dalam poling tersebut. Dalam poling Pilgub Bali itu, sampai Kamis (7/4/2022) Koster menduduki posisi puncak dengan perolehan 195.122 votersatau 81,1 persen, disusul Giri Prasta dengan 35.767 suara atau 14,9 persen.

Bacaan Lainnya

“Terlepas itu poling serius atau main-main, saya merasa tersanjung karena masuknya nama berarti saya disetarakan dengan Pak Gubernur Koster dong? Soal yang memilih saya sedikit atau bahkan tidak ada sama sekali, itu lain lagi ceritanya,” kata Wigunawati sembari tergelak, dihubungi via telepon, Kamis (7/4/2022).

Dengan mendulang hanya 37 suara, Wigunawati dalam posisi juru kunci klasemen. Dia mengaku sebenarnya tahu ada poling itu setelah ada sejumlah koleganya, terutama di dunia advokat, mengabarkan via chating Whatsapp. Namun, karena tidak tahu siapa di balik poling itu, dia memilih mengabaikan karena merasa tidak terlalu penting.

Baca juga :  Armand Setiawan Tanggapi Santai Isu ''Penjegalan'' Dirinya Maju Pemilihan Ketum FORKI Bali

Meski begitu, dia tetap bersyukur namanya “diselipkan” dalam poling. Dia menduga si pembuat poling tahu dia pernah menjadi calon anggota DPD RI pada Pileg 2019, pula pernah menjadi calon Wakil Bupati Jembrana yang diusung Partai Golkar pada Pilkada 2005. Persamaan dua kontestasi tadi, dia berada dalam posisi kalah.

“Sekali lagi terlepas poling itu serius atau iseng-iseng, saya merasa itu bagian dari cara untuk melihat potensi tokoh yang ada di Bali, sejauh mana kira-kira popularitas dan elektabilitasnya. Terima kasih juga karena saya disejajarkan dengan tokoh-tokoh yang luar biasa di Bali, dan semuanya laki-laki,” papar Ketua Bakumham Partai Golkar Bali tersebut.

Dia juga menilai positif poling itu sebagai mulai memperhatikan dan mengapresiasi perempuan. Sebab, selama ini Pilgub Bali memang sangat “laki-laki”. Jika disepakati, hal ini juga proses demokrasi perpolitikan mengarah ke kemajuan. “Seyogianya pimpinan partai sepakat bahwa partai tidak bisa lagi menafikan perempuan dalam politik, terutama dalam pilkada di provinsi maupun kabupaten/kota,” paparnya.

Lebih jauh lagi, Wigunawati memandang poling tersebut sebagai bentuk aksi afirmatif kesetaraan jender di semua lini, dan pengakuan kiprah perempuan dalam politik praksis. Meski dalam poling pilkada kabupaten/kota misalnya ada tokoh perempuan tapi minim yang memilih, lagi-lagi dia mendaku tidak masalah. Bukan soal kuantitas pemilih banyak atau sedikit, tapi sekurang-kurangnya nama sosok perempuan beredar di masyarakat.

Baca juga :  Hati-hati Tekuni Olahraga Crossfit

“Apakah nanti nama-nama itu masuk kontestasi legislatif atau calon kepala daerah, hal ini dapat digolongkan sebagai akselerasi popularitas dan keterwakilan perempuan. Publik juga diingatkan bahwa perempuan juga bisa lho terjun di politik, meski mungkin tidak segarang laki-laki ya.Perempuan juga pasti berhitung atau mengukur, tidak mesti akan ngotot maju. Minimal mengukur ke mana harusnya nanti menentukan jika berminat (ke politik),” tegasnya.

Dalam lanskap politik lokal dan nasional, ulasnya, sejak awal perempuan terkesan dan secara praktik tidak dilibatkan dalam kandidasi elektoral. Dalam kandidasi Pilpres 2024 misalnya, figur perempuan yang gencar elite dan media bahas hanya Puan Maharani. Itu pun karena Puan adalah anak Megawati Soekarnoputri, Ketua Umum DPP PDIP.

Disinggung efek negatif namanya “nyelonong” masuk poling Pilgub Bali, dia mengaku tidak ada; justru ada hikmahnya. Minimal dia mendapat publikasi gratis, dan publik di Bali ingat kembali kepadanya setelah istirahat usai Pileg 2019. Karena namanya banyak dibincangkan, dia mendaku itu memberi energi positif untuknya.

Tidak kapok terjun ke politik dengan pengalaman dua kali kalah kontestasi? “Kalah-menang itu wajar, namanya kompetisi. Justru karena biasa kalah saya oke-oke saja, nggak kagetan kalau kelak maju lagi, entah Pileg atau Pilkada. Yang berbahaya itu kalau belum punya pengalaman kalah, kemudian menarget menang, tapi ternyata kalah,” pungkasnya terkekeh. hen

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.