Galungan dan Kuningan Jadi Momentum Meningkatkan Srada dan Bhakti

  • Whatsapp
Plt Kepala Dinas Pendidikan Kepemudaan dan Olahraga (Disdikpora) Kota Denpasar, AA Made Wijaya Asmara. Foto: tra
Plt Kepala Dinas Pendidikan Kepemudaan dan Olahraga (Disdikpora) Kota Denpasar, AA Made Wijaya Asmara. Foto: tra

DENPASAR – Menyambut Hari Raya Galungan yang jatuh pada Rabu (14/4), seluruh persekolahan di Bali libur selama dua pekan, mulai 12-24 April 2021. Libur hari raya Galungan dan Kuningan ini sesuai kalender pendidikan Bali tahun pelajaran 2020/2021.

Plt Kepala Dinas Pendidikan Kepemudaan dan Olahraga (Disdikpora) Kota Denpasar, AA Made Wijaya Asmara, mengungkapkan, momentum hari raya Galungan dan Kuningan, bisa dimanfaatkan sebagai strategis untuk mentransformasikan nilai-nilai agama, budaya, dan karakter pada para pelajar. “Libur sekolah serangkaian hari raya Galungan dan Kuningan ini bisa dipakai media menguatkan karakter pelajar dan pemuda,” kata Wijaya Asmara, Senin (12/4/2021).

Bacaan Lainnya

Menurut Gung Wijaya, libur hari raya Galungan dan Kuningan mesti berguna bagi anak-anak dalam rangka pendalaman sradha dan bhakti kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Di samping itu, libur hari raya tersebut digunakan untuk mentransfer nilai-nilai agama, budaya, dan karakter.

Dengan demikian, sambung dia, anak didik betul-betul mendapatkan pengayaan yang matang tentang ajaran agama yang dianutnya. Demikian juga pengayaan mereka terhadap budaya. ‘’Alangkah indahnya jika liburan dimanfaatkan untuk kepentingan tersebut, terlebih dalam masa pandemi ini, kita wajib mulat sarira, mempererat tali persaudaraan, dan tali silaturahmi,’’ kata Gung Wijaya.

Baca juga :  Stok Sembako Masih Aman, Suwirta Rapat Dinas Melalui Video Conference

Ia menambahkan, orang tua harus melibatkan mereka dalam membuat sesajen atau perlengkapan sarana ritual lainnya agar liburan tersebut bermanfaat bagi pemahaman anak-anak tentang nilai-nilai budaya dan agamanya. Orang tua juga diharapkan mampu memberikan penjelasan secara sempurna makna di balik ritual tersebut, sehingga istilah nak mula keto dan gugon tuwon tidak lagi menjadi semacam budaya.

‘’Libur panjang itu tak semata-mata merayakan hari raya, tetapi ada pemaknaan dalam rangka peningktan sradha dan bhakti. Anak-anak juga mesti melibatkan diri secara intensif di lingkungannya masing- masing dalam kegiatan agama dan budaya,’’ ujar Gung Wijaya. tra

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.