Latihan Literasi Media untuk Tepis Hoaks di Medsos

  • Whatsapp
LITERASI media di Desa Bakbakan Gianyar. Foto: adi
LITERASI media di Desa Bakbakan Gianyar. Foto: adi

GIANYAR – Peran media sosial (medsos) di masa pandemi Covid-19 meningkat tajam, dan hampir seluruh masyarakat mengakses serta memanfaatkan medsos. Namun, literasi terkait dampak media sosial belum dipahami masyarakat secara optimal. Hal tersebut diungkapkan Dekan Fakultas Ilmu Komunikasi, Universitas Dwijendra, I Wayan Kotaniartha, saat melaksanakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat dengan tema ‘”Pemberdayaan Potensi Sosial dan Literasi Media Bagi Masyarakat Perdesaan”, di Desa Bakbakan, Gianyar, Jumat (18/12/2020).

Dia mengatakan, bakti sosial yang dirangkai berbagai kegiatan itu diikuti 25 mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi, perwakilan BEM Universitas Dwijendra, siswa SMK PGRI 2 Gianyar, hingga masyarakat Desa Bakbakan. Kegiatan sehari itu juga diisi bersih-bersih di areal kantor Desa Bakbakan, dilanjutkan dengan penanaman pohon. Kegiatan lain yakni di SMP PGRI 4 Gianyar dan SMK PGRI 2 Gianyar, yang dirangkai pelatihan tata rias bagi ibu-ibu PKK oleh LPK Agung, hingga pelatihan literasi media bagi siswa SMK PGRI 2 Gianyar.

Bacaan Lainnya

Menurutnya, literasi masyarakat terhadap gempuran informasi lewat berbagai media hingga medsos menjadi fokus kegiatan lembaganya. Tujuannya agar masyarakat, terutama siswa SMK dan generasi muda di perdesaan, memiliki kemampuan resistensi terhadap informasi yang diterima. Bisa dibayangkan jika rumor yang berkembang menyebar dan membuat kecemasan di masyarakat, begitu juga kecemasan berubah menjadi rumor. Ini dapat mengakibatkan simpang-siur informasi.

Baca juga :  Cegah Transmisi Lokal, Brigjen Husein: Saling Ingatkan untuk Disiplin

“Literasi ini penting bagi masyarakat perdesaan, yang setiap hari menerima gempuran informasi lewat berbagai media. Setelah pelatihan ini, generasi muda dan masyarakat mampu memilih berita yang memiliki validitas cukup, bukan berita palsu, maupun informasi tanpa sumber jelas,” paparnya.

Rektor Universitas Dwijendra, Gede Sedana, menambahkan, kegiatan Tri Darma Perguruan Tinggi merupakan kewajiban universitas, sehingga kegiatan kuliah, mengajar, penelitian hingga pengabdian masyarakat bisa berjalan dengan baik. Universitas seharusnya selalu menyatu dengan masyarakat, sehingga apapun kebutuhan masyarakat mestinya secara keilmuan bisa dipenuhi kampus. Kerjasama antara pihak pemerintahan desa dan kampus juga menjadi salah satu fokus melaksanakan program Kampus Merdeka Belajar dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

“Mahasiswa diajak secara dini mengetahui lingkungan dan bermasyarakat, seperti kegiatan bakti sosial dalam upaya mewujudkan Tri Darma Perguruan Tinggi dan Kampus Merdeka Belajar,” terangnya.

Perbekel Desa Bakbakan, Gede Ari Indra Wangsa Waisnawa, menilai kebijakan Kampus Merdeka Belajar dengan kegiatan bakti sosial merupakan upaya pengenalan potensi desa. Di samping itu, pemerintahan desa masih butuh berbagai kajian keilmuan tentang tata kelola pemerintahan, pertanian hingga pariwisata. Selama ini pemerintah desa menjalankan pemerintahan hanya melalui pengalaman dan aturan yang berlaku, tanpa inovasi di bidang tertentu.

“Kerjasama kampus dan desa merupakan hal penting dalam mewujudkan pembangunan di desa. Kegiatan semacam ini sangat diharap masyarakat rutin setiap tahun,” cetusnya. adi

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.