BULELENG – Pasemetonan Sri Karang Buncing Kabupaten Buleleng menggelar Dharma Santi Hari Suci Nyepi Tahun Caka 1945 untuk menguatkan ikatan persaudaran. Acara digelar di kawasan Pura Adi Luhur Desa Bungkulan, Kecamatan Sawan, Minggu (26/3/2023).
Dharma Santi yang dihadiri sekira 1.000 pasemetonan ini menghadirkan narasumber Pandita Dukuh Acharya Daksa dari Padukuhan Samiaga, Denpasar. Pandita Dukuh Acarya Daksa merupakan pandita yang berasal dari keluarga atau warga pasemetonan Sri Karang Buncing.
Ketua Pengurus Pasemetonan Sri Karang Buncing (P2SKB) Kabupaten Buleleng, Gde Komang, mengatakan, Dharma Santi ini menjadi program pertama dari P2SKB Buleleng. Tujuannya untuk mempererat persaudaran keluarga Sri Karang Buncing di Bali.
“Jumlah anggota kami tersebar di Buleleng sekitar 1.800 kepala keluarga. Namun, Dharma Santi ini dihadiri juga dari warga Sri Karang Buncing kabupaten lain di Bali, sehingga persaudaraan kami sebagai satu keluarga makin erat,” ucap Gede Komang.
Sebelum Dharma Santi digelar, Pasemetonan Sri Karang Buncing juga menyucikan tapel (topeng) Kebo Iwa dan Gajah Mada, Pasung Grigis dan Sri Artasura Ratna Bumi Banten. Penyucian tapel selama ini ditempatkan di Pura Sri Karang Buncing, Gianyar.
Melalui dharma wacana, Pandita Dukuh Acharya Daksa menyampaikan, Pasemetonan Sri Karang Buncing harus terus mempererat tali kekeluargaan serta mengingat dan menghormati bhisama (fatwa) leluhur. “Penghormatan terhadap leluhur bisa dilakukan dengan kerja-kerja suci seperti mencari dan memahami jejak-jejak sejarah leluhur dari Sri Karang Buncing,” pesannya.
Usai Dharma Santi, juga digelar fragmentari yang mempertunjukkan kisah kejujuran, keberanian, keikhlasan dan ketulusan serta kesetiaan dari Kebo Iwa untuk ikut berperan. edy
























