KARANGASEM – Peristiwa tanah longsor yang menyebabkan I Wayan Suti (65) warga Banjar Dinas Karangasari Tengah, Duda Utara, Selat, Karangasem meninggal dunia menyisakan luka mendalam di keluarga korban. Istri korban Ni Nengah Siti (63), menceritakan, dirinya bersama korban Wayan Suti tinggal di lereng bukit sejak menikah puluhan tahun yang lalu.
Lahan yang mereka tempati berstatus laba pura desa adat setempat. Mereka berstatus metinin atau meminjam. “Kami tinggal di bukit sudah sejak menikah, mau gimana lagi kami tidak punya tanah untuk ditinggali, ini tanah pinjam milik plabe pura desa,” kata Ni Nengah Siti yang saat ini menumpang di rumah anaknya pascamusibah tanah longsor yang menimpa rumah dan merenggut nyawa suaminya.
Pagi itu, sebelum kejadian biasa bangun lebih dulu dari suaminya untuk memasak air. Padahal detik-detik menjelang musibah tanah longsor terjadi, Siti sempat membangunkan suaminya karena air hujan sudah meringsek masuk ke dalam ruangan tempat tidur sekaligus dapur miliknya.
Hanya saja, saat itu suaminya tidak menggubris peringatan Siti dan justru melanjutkan tidurnya. Situasi semakin mengkhawatirkan, sampai sekitar pukul 05.30 Wita, musibah itu terjadi, longsoran batu dan tanah menimpa suaminya yang sedang tidur. Sementara, Siti berhasil selamat dengan cara melompat keluar dari lubang jendela serta langsung meminta bantuan pada menantunya yang tinggal di atas bukit.
Sementara itu, berdasarkan informasi yang diperoleh, ada sekitar 15 kepala keluarga yang tinggal di kawasan bukit tersebut. Seluruhnya berada dalam posisi rawan bencana longsor karena memang kondisi bukit yang terjal dan labil terutama saat turun hujan deras.
“Ada sekitar 15 KK yang tinggal di bukit itu, rata-rata memang kondisinya kurang mampu dan tidak memiliki lahan yang lebih aman untuk ditempati,” kata Perbekel Desa Duda Utara, I Wayan Suarman, Rabu (19/10/2022).
Atas kondisi tersebut, pihaknya akan mengusulkan bantuan untuk perbaikan rumah milik warga yang tertimbun longsor. Hanya saja sebelum nantinya mendapat bantuan, pihaknya juga akan bertemu dengan tokoh adat serta tokoh mayarakat untuk mencari solusi agar mereka bisa pindah dari bukit tersebut karena selain berbahaya juga tidak ada akses jalan yang cukup untuk menuju ke rumah warga yang ada di kawasan perbukitan tersebut. nad
























