Konsep Satu Jalur Tak Berefek ke Kontestasi, Rebut Karangasem Jadi Prestise PDIP

  • Whatsapp
AKADEMISI FISIP Unud, Kadek Dwita Apriani. Foto: ist
AKADEMISI FISIP Unud, Kadek Dwita Apriani. Foto: ist

DENPASAR – PDIP dipastikan menggenggam kemenangan di lima dari enam kabupaten/kota yang Pilkada 2020 yang digelar, Rabu (9/12/2020). Berhasil merebut kursi Bupati Karangasem, tapi skuat banteng justru kehilangan Jembrana yang dikuasai selama 20 tahun terakhir. Terlepas dari hasil tersebut, komposisi kekuasaan yang ada dinilai tidak akan mempengaruhi konsep satu jalur yang didengungkan PDIP sejak 2018 lalu.

Akademisi FISIP Unud, Kadek Dwita Apriani, mengatakan, jika dihitung secara matematis posisi kepala daerah tetap 5:1 untuk kemenangan PDIP. Dengan begitu, perspektif satu jalur sejatinya sudah terwujud dengan konsep one island one management (satu pulau, satu tata kelola) yang diterapkan Gubernur Bali, I Wayan Koster. “Memangnya sebelum ini ada kepala daerah yang membangkang dengan kebijakan Provinsi? Nggak kan? Itu berarti konsep Gubernur sudah jalan,” urai doktor jebolan FISIP Universitas Indonesia tersebut, Kamis (10/12/2020).

Bacaan Lainnya

Namun, sambungnya, keberhasilan merebut Karangasem tetap memberi efek politis bagi PDIP, terlepas dari komposisi di Bali adalah 7:2 dengan dominan kader PDIP sebagai kepala daerah. Selain itu, kemenangan di Karangasem memberi prestise bagi PDIP, karena tiga periode tidak mampu mendudukkan kadernya sebagai Bupati.

Baca juga :  Ketua DPRD Buleleng Ucapkan Selamat Galungan dan Kuningan, Ajak Masyarakat Patuhi Prokes

Dwita kurang sependapat adanya pandangan Karangasem dikuasai karena menjual slogan satu jalur. Bagi dia, kemenangan diraih lebih karena PDIP sangat serius menyerang Karangasem. Menurutnya, PDIP melihat tiga daerah yakni Bangli, Jembrana, dan Karangasem terbilang “rawan”. Hanya, Karangasem seakan punya nilai lebih lantaran 15 tahun dikuasai partai lain, sehingga jadi pertaruhan gengsi kalau berhasil direbut.

“Yang jadi pertanyaan untuk Bapilu PDIP, mereka fokus ke Karangasem tapi Jembrana malah lepas. Kalau analisis SWOT, berarti Jembrana dianggap aman, makanya semua kekuatan diarahkan ke Karangasem dan optimal hasilnya,” ulasnya.

Soal Jembrana, dia menilai PDIP sesungguhnya merasa terancam, tapi tetap menaksir peluang menang lebih besar, makanya terkesan diabakan. Karangasem digencarkan, pada saat yang sama tidak ada upaya lebih ke Jembrana. Meski begitu, dia tidak sepakat bahwa kekalahan Kembang Hartawan-Sugiasa dimaknai sebagai hukuman atas kepemimpinan Kembang selaku Wakil Bupati selama 10 tahun terakhir.

Membaca hasil di Jembrana, dia menyodorkan tiga pendekatan yakni sosiologis, identifikasi parpol, dan pendekatan rasional. Pendekatan sosiologis berkaitan dengan atribusi lahiriah seperti etnis dan agama. Misalnya memilih si A karena merasa dekat secara etnis, dan kemungkinan Kembang mengandalkan titik masuk secara politik dengan kurang memperhatikan sosiologis.

Terkait identifikasi parpol, kata dia, banyak pendukung PDIP di Jembrana, tapi tidak cukup dominan untuk menguasai secara dominan. Sebab, ada partai lain seperti PKS dengan citra Islam yang melekat padanya, dan ini menarik untuk menarik pemilih di kantong-kantong muslim.

Baca juga :  Wabup Suiasa Apresiasi Donor Darah Pasemetonan Kayu Selem

Terakhir adalah pendekatan pilihan rasional, yang mencakup kualitas kandidat, untung-rugi memilih kandidat tersebut, dan lain-lain. Konklusinya, tidak bisa hasil akhir ditafsirkan semata-mata sebagai hukuman atau menolak oleh publik. “Kita harus lihat tiga faktor itu, apalagi di Jembrana ada isu moralitas juga dimainkan sebagai bahan kampanye oleh salah satu tim paslon. Kalau untuk party ID (identifikasi diri sebagai anggota partai) saya lihat tidak menonjol, karena di sana multikultur, dan pandangan politik tidak bisa diarahkan,” pungkasnya. hen

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.