Agitasi “Di Rumah Saja” Pengaruhi Partisipasi Pemilih

PEMILIH menggunakan hak suara di TPS 09 Banjar Kancil, Kerobokan, Kuta Utara, Badung. Tingkat partisipasi di Badung relatif baik meski hanya diikuti paslon tunggal. Foto: hen
PEMILIH menggunakan hak suara di TPS 09 Banjar Kancil, Kerobokan, Kuta Utara, Badung. Tingkat partisipasi di Badung relatif baik meski hanya diikuti paslon tunggal. Foto: hen

DENPASAR – Target partisipasi masyarakat sebesar 85 persen dalam Pilkada 2020 di Bali sepertinya urung tercapai. Ada sejumlah faktor mempengaruhi tingkat kehadiran masyarakat ke TPS, salah satunya adalah agitasi atau hasutan agar “di rumah saja” pada tanggal 9 Desember saat pemungutan suara. Di sisi lain, secara umum partisipasi masyarakat justru meningkat bila dibandingkan dengan Pilkada 2015.

“Kalau dibilang jeblok saya rasa tidak begitu. Tapi kalau dilihat bahwa partisipasi masyarakat tidak mencapai target 85 persen, iya,” kata komisioner KPU Bali, I Gede John Darmawan, saat dihubungi, Kamis (10/12/2020).

Read More

Menurut John, target yang dicanangkan KPU Bali tersebut dilansir pada saat pandemi Covid-19 belum menyelimuti Indonesia. Kata dia, target 85 persen digaungkan melihat animo masyarakat usai Pemilu Serentak 2019 yang mencapai 82 persen. Ketika pandemi melanda, John mengakui ada masukan agar target itu direvisi. Namun, sebutnya, bagi KPU pantang merevisi target itu.

“Kami tidak mau, karena tetap ingin partisipasi masyarakat setinggi-tingginya. Itu juga membuat kami berusaha semaksimal mungkin mencapainya, soal tercapai atau tidak itu lain hal,” lugas mantan Ketua KPU Denpasar itu.

Meski belum ada data resmi berapa rerata tingkat kehadiran di TPS, John mendaku saat ini angkanya dinilai “menggembirakan”. Alasannya, dengan segala keterbatasan ruang gerak akibat pandemi, pemilih datang ke TPS saat ini lebih tinggi tinimbang Pilkada Serentak 2015. Sebagai pembanding, dia menyebut masyarakat menggunakan hak pilih di Jembrana tahun ini mencapai 78 persen, naik 15 poin dari 63 persen pada Pilkada 2015. Kemudian di Tabanan juga naik menjadi 81 persen dari 61 persen tahun 2015, dan Denpasar kemungkinan turun dari 56 persen menjadi 54 persen berdasarkan perhitungan sementara. “Badung kabarnya mencapai 85 persen, tapi data pasti masih kami cek,” ungkapnya.

Disinggung apakah faktor kualitas kandidat yang ditawarkan parpol kurang berkualitas atau kurang menarik animo masyarakat, John menolak berkomentar. Dalam pandangannya, paslon yang ditetapkan parpol sudah melalui serangkaian proses politik. Dengan demikian, sambungnya, semua kandidat niscaya berkualitas dan menarik.

Faktor lain, ulasnya, adalah faktor cuaca saat hari pemungutan suara yang kurang bersahabat karena terjadi hujan deras dan angin kencang. Dari laporan KPU, bahkan ada satu TPS yang atapnya terbang ditiup angin. Namun, tegasnya, faktor lain yang tidak bisa dianggap remeh yakni hasutan di media sosial, terutama Facebook, agar warga “di rumah saja”. Agitasi itu muncul sejak dua hari sebelum pemungutan suara, meski sekira sebulannya isu itu sempat “tertidur”.

Meski mengakui tidak memiliki alat ukur yang jelas terkait dampak hasutan itu, John memandang isu itu cukup mempengaruhi animo masyarakat ke TPS. KPU, imbuhnya, sudah berupaya menangkis isu itu dengan narasi tandingan. Hanya, tetap saja masyarakat menjadi seperti punya opsi untuk tidak usah datang ke TPS, karena argumen yang dipakai adalah ketaatan protokol kesehatan agar tidak ada kerumunan.

“Tapi perlu digarisbawahi bahwa tingkat kepatuhan protokol kesehatan di TPS termasuk tinggi, mencapai 96,1 persen secara nasional. Salah satu samplingnya itu di Bali,” ulasnya menandaskan. hen

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.