DENPASAR – Koalisi yang digalang Partai Golkar pada Pilkada 2020 di empat kabupaten dan satu kota di Bali, kecuali Karangasem, menyodorkan wacana alternatif ke pemilih. Mereka berpandangan kemenangan paslon koalisi yang menantang petahana dapat melahirkan sehatnya demokrasi. Semua bermuara kepada hadirnya keseimbangan kekuatan antara di eksekutif dan legislatif untuk mengurus rakyat.
Ketua DPD Partai Golkar Bali, I Nyoman Sugawa Korry, berkeyakinan kemenangan paslon penantang akan mewujudkan demokrasi yang makin berkualitas. Alasannya, selama ini PDIP menjadi partai mayoritas di parlemen. Ketika yang menjadi kepala daerah adalah lawan politik, maka parlemen akan kuat mengontrol kinerja eksekutif.
“Eksekutif akan dikontrol oleh legislatif yang kuat, sehingga eksekutif akan terus mengembangkan kreativitas program yang dipastikan harus prorakyat agar terus didukung. Kita lihat di sistem politik Amerika Serikat, ketika presidennya dari Partai Republik, maka legislatif lebih cenderung dikuasai oleh Partai Demokrat,” ulasnya usai pertemuan dengan petinggi mitra koalisi yakni Demokrat dan Nasdem di Jimbaran, Sabtu (5/12).
Dalam pertemuan itu, Sugawa didampingi fungsionaris Dewa Suamba Negara dan Komang Suarsana. Dari Partai Demokrat hadir Gde Ngurah Wididana dan Sukrawan, sedangkan Julie Laiskodat dan Nyoman Winata merupakan dua elite Nasdem. Mereka membahas perkembangan terakhir pilkada di enam kabupaten/kota di Bali.
Senyampang mengupas isi pertemuan, Sugawa kembali melakukan psywar atau perang urat syaraf. Dari kesimpulan pertemuan, sebutnya, koalisi partai berkesimpulan terdapat eskalasi politik yang menguntungkan koalisi setelah masa kampanye. Jika sebelumnya koalisi optimis “hanya” di Karangasem, Bangli dan Jembrana, kini optimisme menyebar ke semua daerah.
Sugawa mengklaim, arus bawah di daerah Tabanan dan Denpasar sangat luar biasa untuk melakukan perubahan. Keinginan perubahan di Tabanan dan Denpasar, sambungnya, sebentuk dengan kerinduan hadirnya pemimpin baru di Jembrana. “Akan terjadi kejutan besar di Jembrana, Tabanan dan Denpasar. Kalau di Karangasem, Bangli dan Badung kan sudah jelas terkunci untuk kemenangan paslon dari partai koalisi,” klaimnya tanpa merinci data yang digunakan sebagai basis argumen.
Julie Lasikodat menambahkan, kerinduan perubahan dalam pelangi demokrasi yang sangat indah akan terjadi di Bali. Kondisi tersebut juga setelah mencermati survei internal koalisi yang, menurutnya, petahana di Jembrana, Tabanan dan Denpasar belum mendapat dukungan signifikan. Masih tingginya angka swing voter atau masyarakat yang belum menentukan pilihan, dimaknai sebagai mereka lebih cenderung setuju dengan perubahan. Sayang, sama dengan Sugawa, Julie juga tidak memberi data jelas hasil survei dimaksud.
Terkait pemecatan Made Gianyar dan Ngakan Kutha Parwata selaku kader PDIP karena dinilai membelot ke Golkar dan koalisi di Pilkada Bangli, Sugawa beralasan situasi tersebut merupakan kebijakan internal PDIP. Dia pun enggan mengomentari lebih jauh. Hanya, dia menilai kedua sosok tersebut politisi kenyang pengalaman.
“Yang kami tahu betul, Pak Made Gianyar dan Pak Kutha Parwata itu adalah tokoh Bangli yang sangat dicintai dan dihormati masyarakat Bangli,” serunya diplomatis.
“Kami mengajak masyarakat hadir di TPS, gunakan hak pilih dengan tetap menaati protokol Kesehatan Covid-19,” ajaknya menandaskan. hen
























