BANGLI – Hasrat sejumlah petani cabai di Bangli untuk meraup keuntungan tinggi, kini tinggal angan-angan belaka. Cuaca ekstrem yang terjadi belakangan ini berdampak kepada tanaman cabai mereka yang busuk sebelum panen dilakukan. Penyakit antraks diduga kuat sebagai biang kerok kesialan tersebut.
Seperti yang terlihat di wilayah Kecamatan Kintamani, petani terpaksa memanen cabai sebelum waktunya. Selain lebih awal, banyak yang memanen cabai dalam kondisi rusak. “Kami terpaksa memanen cabai yang kondisi tidak bagus untuk menghindari kerugian yang terlalu besar,” keluh petani Desa Bayung, Gede Made Sandiastra, ditemui pada Senin (6/3/2023).
Dia menuturkan, bila tanaman cabai terserang penyakit antrak, buah cabai akan membusuk, tanaman mengering dan buahnya rontok. Berbagai upaya dilakukan petani untuk menghentikan serangan penyakit seperti menyemprot tanaman dengan obat-obatan, tapi tidak membuahkan hasil.
Akibatnya, produksi tanaman cabai mengalami penurunan cukup drastis mencapai 50 persen. “Kami hanya bisa pasrah mendapati tanaman yang kini mulai busuk ini,” ucapnya dengan nada lesu.
Harga cabai di pasaran saat ini disebut menunjukkan kenaikan. Dia mengaku bisa menjual dari harga Rp40 ribu hingga Rp45 ribu per kilogram di kebun.
Meski serangan hama antraks kerap menghampiri, dia mengaku tidak akan kapok menanam cabai. Lagipula kondisi semacam ini memang biasa dialami.
“Yang namanya usaha memang untung dan rugi selalu akan ada, sewaktu-waktu pasti akan menemukan harga jual maupun hasil yang baik,” katanya, kali ini dengan nada optimis.
Hal senada disampaikan Ni Wayan Lasmini, pedagang asal Desa Buahan, Kintamani. Ditemui di Pasar Kidul Bangli, dia berujar harga cabai meningkat jadi Rp50 ribu per kilogram tapi kuantitas pembeli seperti biasa. Biasanya membeli dua kilo, sekarang hanya setengah kilogram sampai 1 kilogram saja.
Berkurangnya pasokan disebabkan tanaman cabai petani banyak terserang penyakit antraks, lalat kuning dan belakangan serangan busuk batang. “Jika sudah terserang busuk batang, tanaman sudah pasti akan mati. Makanya banyak petani memanen lebih awal karena takut merugi,” tandasnya. gia
























