Hadirkan Citra Tepat di Debat Kandidat, Pemilih Muda Jadi Tantangan Terbesar

  • Whatsapp

PILKADA Denpasar 2020 akan memasuki tahapan debat kandidat pada Sabtu (10/10/2020) malam ini. Paslon Jaya-Wibawa dan paslon Amerta disediakan panggung untuk unjuk kemampuan menawarkan janji kampanye mereka. Pun kedua kubu berkesempatan menguliti visi-misi kompetitornya di hadapan publik melalui layar kaca. Mendulang simpati dan bersedia memilih, lebih-lebih konstituen dari generasi muda yang persentasenya di atas 65 persen, adalah targetnya.

Sebagai bahan untuk diperdebatkan, KPU memberi tujuh tema dalam debat kandidat, yang dibagi sesuai jumlah hari yang disepakati dengan maksimal tiga kali. Debat dimulai dengan penyampaian visi dan misi serta program paslon sesuai Keputusan KPU RI Nomor 465/2020.

Bacaan Lainnya

Meski bukan kali pertama ada acara debat kandidat, layak rasanya dikupas seberapa penting acara yang mengadopsi budaya demokrasi di Amerika Serikat itu untuk mempengaruhi khalayak. Tontonan debat memiliki nilai strategis untuk memperlihatkan ke publik apa sesungguhnya yang akan dilakukan paslon ketika menjabat kelak. Sebentuk sebangun dengan komoditas atau barang dagangan, visi dan misi bisa saja dibuat “berbunga-bunga” dengan tujuan utama menarik perhatian pemilih.

Aneka kebijakan yang terdengar indah akan mudah disampaikan paslon. Namun, bagi publik, yang lebih penting di balik itu adalah untuk paham bagaimana cara kandidat mewujudkan apa yang dikatakan itu secara logis, ditunjang dengan data meyakinkan. Sebab, esensi kampanye adalah meyakinkan orang bahwa apa yang dijanjikan dapat terwujud.

Baca juga :  Serinah Dilantik Jadi Pjs Bupati Karangasem, Ini Pesan Gubernur Koster

Ketika mengusung visi kota kreatif berbasis budaya misalnya, kandidat niscaya dapat menjelaskan apa yang dimaksud dan bagaimana dia mencapainya. Atau misalnya ingin membuat kotanya maju, suatu istilah yang sangat umum, dalam debat hal itu perlu diperlihatkan agar publik paham “maju” dalam pengertian apa yang dimaksud kandidat. Layak digarisbawahi, pengertian “maju” dalam benak orang awam bisa jadi berbeda jauh dengan versi sang calon kepala daerah.

Mengilas balik sejarah, pada saat debat kandidat Presiden Amerika Serikat tahun 1960, impresi senator John Fitzgerald Kennedy sebagai kandidat mampu mencuri perhatian publik Negeri Paman Sam. Meski secara substansi Richard Nixon lebih menguasai, tapi acara opini dari debat itu “dimenangkan” Kennedy yang lebih muda usianya, ganteng, dan berpenampilan lebih menarik. Dalam batas tertentu, hal serupa juga terjadi dalam debat kandidat Presiden Indonesia saat Pilpres 2004. Susilo Bambang Yudhoyono sebagai penantang petahana Megawati Soekarnoputri lebih disukai pemilih berkat kepiawaian menghadirkan imaji meyakinkan, dengan  memanfaatkan lensa kamera televisi.

Namun, terlepas dari faktor pertunjukan yang disajikan, lebih penting bagaimana kemampuan kandidat memersuasi publik dengan retorikanya. Menurut Iswandi Syahputra, mengutip pemikiran Elihu Katz, Jay G. Blumer, dan Michael Gurevitch, khalayak yang selektif akan memilih pesan atau pembicaraan politik di media berdasarkan kegunaan bagi dirinya sendiri, atau untuk memenuhi kebutuhan batinnya. Selektivitas individu dalam mengolah informasi sangat menentukan respons dan perilaku komunikasinya. Dan, hal ini sangat memiliki nilai strategis dalam kontestasi politik.

Baca juga :  Golkar Dorong Mitra Koalisi Sejalur, Percayakan Demokrat Disiplinkan Kader di Badung

Untuk itu, kemampuan retorika atau berbicara sangat diperlukan dalam membentuk atau mempengaruhi opini publik. Sebagai seni berbicara, retorika mengandung banyak unsur persuasif seperti penggunaan bahasa yang indah serta berirama saat berpidato. Debat termasuk seni retorika, karena penulis atau pembicara berusaha menginformasikan, membujuk, atau memotivasi pihak lain dalam situasi tertentu.

Pesan terpenting dalam debat yakni bagaimana kandidat memberi harapan atas situasi lebih baik di masa depan. Franklin Delano Roosevelt mengatakan, kita tidak bisa selalu membangun masa depan untuk generasi muda kita, tapi kita bisa membangun generasi muda kita untuk masa depan. Nukilan pesan ini jelas menyiratkan pentingnya generasi tua menyasar kaum muda untuk diajak turut membangun negeri, demi terciptanya kesinambungan pembangunan.

Bagaimana menyiapkan generasi muda menghadapi masa depan penuh harapan, itulah inti soal yang mesti dirancang dalam bentuk kebijakan dan program saat kandidat dipercaya sebagai kepala daerah. Apalagi generasi muda, terutama kaum milenial, dikenal apolitis dan cenderung skeptis memandang politik praksis. Kondisi ini sedikit menyulitkan untuk mengajak mereka berpartisipasi dalam pembangunan demokrasi elektoral, dalam wujud sederhana yakni menggunakan hak pilihnya. Mampukah paslon di Pilkada Denpasar mewujudkan itu? Gus Hendra

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.