Gegara Ini, Petani Bunga Pacar di Bangli Kelimpungan

  • Whatsapp
PETANI memanen bunga pacar. Nasib petani bunga pacar di Bangli belakangan jauh dari menyenangkan, gegara harga bunga anjlok di pasar tradisional Bangli. Foto: gia
PETANI memanen bunga pacar. Nasib petani bunga pacar di Bangli belakangan jauh dari menyenangkan, gegara harga bunga anjlok di pasar tradisional Bangli. Foto: gia

BANGLI – Canangsari jadi kewajiban sehari-hari di Bali untuk upakara, dengan galibnya berisi bunga pacar. Sayang, nasib petani bunga pacar di Bangli belakangan jauh dari menyenangkan, gegara harga bunga anjlok di pasar tradisional Bangli.

Simak saja penuturan Ni Nengah Sudarmi (60), petani bunga pacar asal Rendang, Karangasem yang mengontrak lahan di seputar Dusun Bangbang Kaja, Tembuku, Rabu (18/11/2020). Dia berkisah, saat ini harga bunga pacar turun drastis menjadi hanya Rp 15 ribu per 8 kilogram. Terkadang ketika tidak ada hari raya, harga bunga antara Rp 10 ribu sampai Rp 15 ribu untuk 3 kresek atau sekira 12 kilogram.

Bacaan Lainnya

Dengan situasi seperti ini, dia berkata sangat rugi. Sebab, dia harus tetap membayar lahan yang dikontrak. Tidak punya banyak pilihan, dia menyebut rutin memetik bunga setiap hari, kecuali hujan, dengan produksi rerata 3 s.d. 5 kg. Saat musim hujan, terangnya, tanaman pacar tetap berbunga.

“Cuma kalau kita mau memetik, kita harus tunggu dulu sesaat agar bunga tidak dalam keadaan basah. Kalau dipetik saat masih basah, bunga akan cepat rusak, untung sekarang cuaca agak cerah,” ungkapnya. “Bunga dijual ke pengepul asal Klungkung yang datang ke sini. Memasarkannya gampang, tapi harganya sangat anjlok,” imbuhnya dengan nada lesu.

Baca juga :  Sembuh 37 Orang, Jembrana dan Karangasem Nihil Tambahan Kasus Positif Covid-19

Ni Ketut Simpen, pedagang bunga pacar asal Gunaksa, Klungkung, saat ditemui di Pasar Kidul, mengatakan, situasi sekarang sangat sulit karena harga turun drastis. Hanya, dia menilai kondisi itu dapat dimaklumi karena  pasokan berlimpah dari petani bunga di Bali dari sebelumnya. Di samping itu, sambungnya, keadaan ini dampak dari cuaca tidak menentu seperti terjadi sekarang ini.

“Sekarang mulai hujan, banyak tanaman bunga  rusak terkena guyuran hujan. Selain itu banyak warga menanam bunga akibat dampak Covid-19, sehingga beberapa petani mulai menanam bunga sebagai tanaman tumpang sari,” bebernya menandaskan. gia

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.