Gali Ilmu Usada agar Bermanfaat bagi Kehidupan Masyarakat

  • Whatsapp
KEPALA Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, Prof. Dr. I Wayan "Kun" Adnyana. Foto: ist
KEPALA Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, Prof. Dr. I Wayan "Kun" Adnyana. foto: ist

DENPASAR – Usada atau ilmu pengobatan tradisional Bali begitu kaya dan sarat dengan filsafat. Begitu pula ada etika bagi praktisi usada dalam menjalankan pengobatan sebagai seorang balian hingga memfungsikan kembali pekarangan rumah dengan berbagai tanaman obat.

Topik seputar usada tersebut menjadi perbincangan menarik dalam sesi pertama widyatula (seminar) Bulan Bahasa Bali 2021 yang berlangsung Jumat (5/2/2021) secara daring. Seminar yang mengetengahkan tema “Kalimosada: Usadha Bali pinaka Panepas Pangradban Kaliyuga” itu menghadirkan tiga akademisi yang konsen dalam kajian usada Bali.

Bacaan Lainnya

Ketiga pembicara ini, yaitu Dr. Drs. I Ketut Jirnaya, M.S. (Prodi Sastra Jawa Kuno Universitas Udayana); Dr. Drs. Ida Bagus Suatama, M.Si. (Prodi Ayur Weda Universitas Hindu Indonesia); dan I Ketut Sandika, S.Pd.H., M. Fil. H. (UHN IGB Sugriwa) dengan moderator I Ketut Eriadi Ariana, S.S (Jero Penyarikan Duuran Batur), peneliti sastra yang juga jurnalis.

Kepala Dinas Provinsi Bali, I Wayan ‘Kun’ Adnyana mengapresiasi kiprah para akademisi, penekun usada atau praktisi usada di Bali secara konsisten hadir, melalui penggalian dan membuka wawasan ilmu pengobatan tradisional yang sangat bermanfaat bagi kehidupan masyarakat.

“Melalui Bulan Bahasa Bali yang ketiga ini, para praktisi usada dengan berbagai sumber lontar dapat menggali khazanah literasi, dapat memperkaya ilmu pengobatan tradisional sehingga bermanfaat bagi kehidupan kita. Melalui Bulan Bahasa Bali yang terselenggara menyemesta hingga ke seluruh desa adat di Bali benar-benar menjadi altar pemuliaan Bahasa, Aksara, dan Sastra Bali,” kata Kun Adnyana.

Baca juga :  Kebahagiaan Tanggung Jawab Kita Bersama, Tema HUT Ke-233 Kota Denpasar

Ketut Jirnaya dalam makalahnya “Lontar Usada Budha Kacapi pinaka Dasar Miwah Tuntunan Para Balian ring Bali” menjelaskan bahwa teks Budha Kecapi merupakan salah satu teks rujukan dalam dunia usada di Bali. Teks ini ditemukan dalam berbagai varian seperti Budha Kecapi Putih, Budha Kecapi Cemeng, Budha Kecapi Sastrasangha, dan sebagainya.

“Budha Kecapi memberikan penjelasan tentang hakikat pengobatan usada, mulai dari proses diagnosa hingga pengotan. Juga tentang disiplin seorang balian atau dukun usada,” katanya.

Sementara itu, Sandika dalam makalahnya “Kaweruhan Tattwa Aksara Kalimosaddha-Kalimosaddhi” lebih banyak menjelaskan aspek filsafat dari pelaksanaan usada di Bali. Menurutnya, berbagai ilmu yang termuat dalam sejumlah teks usada pada dasarnya terkait dengan filsafat ketuhanan yang disimbolkan dalam aksara-aksara.

“Dalam Kalimosaddha-Kalimosaddhi, kita sejatinya diajak untuk mengetahui hakikat filsafat yang menjadi dasar mempraktikkan sastra-sastra tersebut. Filsafat ini dapat digunakan sebagai sarana untuk menghindarkan diri dari berbagai bentuk penyakit dan wabah. Pengetahuan inilah yang hendaknya digunakan untuk menghadapi kondisi zaman pada masa Kaliyuga ini,” terangnya. alt

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.