DENPASAR – Jajaran pengurus PGRI Provinsi Bali menggelar Rapat Pimpinan Provinsi (Rapimprov) PGRI Bali di Sanur, Sabtu (15/10/2022). Rapimprov dibuka Kabid Guru dan Tenaga Kependidikan, I Gede Ketut Seputera Aryadi, SE., mewakili Kadisdikpora Bali. Secara virtual juga hadir Ketua Lembaga Konsultasi Bantuan Hukum (LKBH) PB PGRI Pusat, Ir. Achmad Wahyudi, S.H., M.H.
Rapimprov yang diikuti 61 peserta yakni Pengurus PGRI Provinsi Bali, Pengurus PGRI kabupaten/kota se-Bali, perwakilan YPLP PGRI Bali, serta kelengkapan organisasi PGRI Bali, mengambil tema “Guru Bangkit, Bergerak dengan Hati, Pulihkan Pendidikan untuk Indonesia Maju”.
Pada Rapimprov ini juga diisi narasumber dari Polda Bali yang menyajikan materi nota kesepahaman PB PGRI dengan Kepolisian Negara Republik Indonesia.
Ketua PGRI Bali, Komang Artha Saputra, S.Pd., M.Pd., mengatakan, Rapimprov ini membahas dan menetapkan kebijakan organisasi tingkat provinsi yang belum ditetapkan dalan Konkerprov dan tidak bertentangan dengan keputusan Konprov.
Selain itu, dibahas dan menilai kebijakan pendidikan di tingkat provinsi, mengkoordinasikan pelaksanaan program dan kebijakan organisasi yang sejalan dengan keputusan Konprov.
Lebih lanjut Artha Saputra mengatakan, PGRI sebagai rumahnya para guru dan mitra strategis dari pemerintah harus berperan aktif untuk turut meningkatkan professional guru dan tenaga kependidikan. Mengkritisi positif kebijakan pemerintah, turut menanggapi isu-isu yang berkembang di bidang pendidikan dalam upaya mewujudkan tujujuan pendidikan nasional dan guru yang sejahtera serta terlindungi.
Di sisi lain, Artha Saputra yang juga Kepala SMA PGRI 2 Denpasar ini mengatakan, ada sejumlah permasalahan yang dihadapi saat ini. Di antaranya, keberadaan sekolah swasta yang terus mengalami penurunan dalam penerimaan peserta didik baru, bahkan sudah ada yang tidak dapat beroperasi lagi.
Selain itu, pengangkatan PPPK ia mohon kuotanya dapat diperbesar terutama guru bahasa Bali yang belum mendapat kesempatan, dan jika memungkinkan guru swasta yang lulus PPPK diangkat di tempat asal. Juga pemberian BOS Daerah untuk sekolah swasta, dan memperketat kenaikan pangkat bagi guru yang belum menunjukkan kartu PGRI, serta penyertaan insentif TPP bagi guru di seluruh Bali.
Namun demikian, ia menegaskan, PGRI Bali mendukung program “Nangun Sat Kerti Loka Bali” yang menjadi program unggulan dalam pembangunan Provinsi Bali di bawah kepemimpinan Gubernur Bali, Wayan Koster dan Wakil Gubernur Bali, Tjok Oka Artha Ardana Sukawati (Cok Ace). Bahkan, menjelang perayaan HUT ke-77 PGRI, berbagai program dan kegiatan akan dilaksanakan berbasis visi “Nangun Sat Kerti Loka Bali”.
Ketua Lembaga Konsultasi Bantuan Hukum (LKBH) PB PGRI Pusat, Achmad Wahyudi, secara virtual mengatakan, Ketua Umum Pengurus Besar Persatuan Guru Republik Indonesia (PB PGRI) Unifah Rosyidi, sudah bertemu Presiden Joko Widodo (Jokowi) di Istana Kepresidenan, Jakarta.
Kata Wahyudi, Unifah meminta Jokowi tak menghapus tunjangan profesi guru dan dosen dalam Rancangan Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional (RUU Sisdiknas) yang tengah dibahas. Ia menjelaskan tunjangan tersebut sangat penting sebagai bentuk penghargaan terhadap profesi guru dan dosen.
Dia menegaskan kalangan guru dan dosen sangat tidak nyaman menanggapi rencana penghapusan tunjangan tersebut. Mengingat tunjangan profesi guru dan dosen berkaitan erat dengan harkat dan martabat kedua profesi tersebut dan sebagai profesi itu adalah sebuah syarat mutlak bagaimana negara menghargai guru dan dosen.
Kadisdikpora Bali dalam sambutan yang dibacakan Kabid Guru dan Tenaga Kependidikan, I Gede Ketut Seputera Aryadi, mengatakan, Disdikpora Bali sesuai visi Gubernur Bali “Nangun Sat Kerthi Loka Bali melalui Pola Pembangunan Semesta Berencana Menuju Bali Era Baru” mendukung dan memberikan restu kepada guru agar dapat menjadi pemimpin pembelajaran dan membantu menguatkan eskosistem pendidikan, serta menumbuhkan semangat siswa.
Karena itu, ia meminta guru terus berkarya dan berprestasi dalam wadah PGRI, jangan pernah berpaling dari amanah konstitusi untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Karenanya, cintai dan hormati guru, karena tanpa guru kita bukan siapa-siapa. Jadikan PGRI sebagai wadah memunculkan berbagai inovasi di bidang pendidikan.
Guru adalah panggilan jiwa dan ketulusan pengabdian. Dengan perkembangan teknologi, kemampuan individu baik siswa maupun guru harus ditingkatkan dengan cara terobosan teknologi yang tepat sebagai bentuk investasi jangka panjang bagi Indonesia. Inilah yang akan menjadikan anggota PGRI semakin berkualitas. tra
























