Desa Adat se-Jembrana Deklarasi, Larang Sampradaya Non-Dresta Bali

  • Whatsapp
BENDESA adat se-Kabupaten Jembrana saat menggelar deklarasi menolak sampradaya non-dresta Bali. foto: ist

JEMBRANA – Bola panas terkait dengan penolakan terhadap sampradaya non-dresta Bali terus bergulir. Bahkan, Bendesa Adat se-Kabupaten Jembrana mendeklarasikan larangan terhadap keberadaan dan kegiatan sampradaya non-dresta Bali.

Bendesa Madya Desa Adat (MDA) Kabupaten Jembrana, I Nengah Subagia, mengatakan, deklarasi menolak sampradaya non-dresta Bali ini dilaksankan di halaman GOR Lila Bhuana, Dangin Puri Kangin, Kota Denpasar.

Bacaan Lainnya

Deklarasi ini dilakukan setelah para Bendesa Adat se-Kabupaten Jembrana melaksankan studi tiru Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) di Puspem Badung dan IPAL Suwung, Denpasar, terkait rencana kerjasama pengolahan air limbah domestik antara Perusda Bali dengan desa adat se-Jembrana.

“Aksi deklrasi menolak sampradaya non-dresta Bali itu memang sudah dirancanakan sebelumnya. Namun deklrasi itu tidak ada kaitannya dengan acara studi tiru. Deklarasi kita laksanakan setelah studi tiru,” ungkapnya, Selasa (4/5/2021).

Lebih lanjut Subagia mengatakan, dalam aksi deklarasi tersebut, para Bendesa Adat se-Kabupaten Jembrana berfoto bersama dengan membentangkan sebuah spanduk yang bertuliskan “Melarang Keberadaan dan Kegiatan Sampradaya Non Dresta Bali di Wewidangan Desa Adat Se-Kabupaten Jembrana.”

Dalam spanduk itu, juga berisi kalimat “Sampradaya Non Dresta Bali/Sampradaya Import Bukan Krama Desa Adat Bali (Tamu Ring Wewidangan Desa Adat)”. Dan di bawahnya juga ditegaskan kalimat “kanggoan suwud dadi krama desa adat” (lebih baik berhenti sebagai krama desa adat).

Baca juga :  Bupati Dana Lantik Pejabat Fungsional Karangasem

“Deklarasi ini juga membubuhkan tandatangan penyataan dari para bendesa adat se-Kabupaten Jembrana. Itu sebagai bentuk komitmennya melarang sampradaya non-dresta Bali menjaga adat, tradisi, dan budaya Bali. Sesuai dengan Surat Keputusan Bersama (SKB) PHDI dan MDA Bali serta Instruksi MDA Bali,” tegasnya.

Menurut Subagia, sebenarnya dari desa adat tidak melarang adanya budaya luar masuk ke Bali. Asalkan tidak sampai mengganggu dresta Bali. “Kalau saat ini, di Jembrana masih aman. Sementara belum ada kita temukan gerakan-gerakan (sampradaya non-dresta Bali) setelah ada SKB dan Instruksi MDA itu. Kita berharap mudah-mudahan itu tetap dipatuhi,” pungkasnya. man

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.