Demer Keliru Maknai Museum dan Kebudayaan

  • Whatsapp
BUDAYAWAN Bali, Prof. Dr. I Made Bandem. foto: dok

DENPASAR – Budayawan Bali, Prof. Dr. I Made Bandem, menegaskan bahwa kekeliruan besar jika ada yang beranggapan bahwa pembangunan Pusat Kebudayaan Bali bertujuan untuk memuseumkan kebudayaan Bali.

Dijelaskan, museum bukanlah gudang untuk menyimpan benda-benda mati. Museum adalah gedung atau ruangan untuk memamerkan hasil karya kreativitas, karya budaya, peninggalan sejarah, bahkan tengkorak manusia purba.

Bacaan Lainnya

“Tentu diikuti dengan story telling yang jelas dan menggugah. Fungsi utamanya adalah edukasi, mengajarkan dan memberi inspirasi tentang puncak-puncak kebudayaan,” jelas Prof. Bandem di Denpasar, belum lama ini.

Begitu juga dengan arti kebudayaan, bukanlah sesuatu yang dibawa manusia sedari lahir. Manusia lahir hanya membawa kecerdasan atau bakat, seperti bakat matematika, bahasa, seni rupa, seni gerak, seni berkomunikasi, dan lain-lainnya.

“Kebudayaan adalah hasil pendidikan, interaksi, asimilasi, difusi, imajinasi, kreativitas, inovasi, bahkan hasil rekayasa. Jadi dengan demikian kebudayaan bersifat dinamis dan membutuhkan prasarana dan sarana seperti Pusat Kebudayaan Bali untuk pembinaan dan pengembangannya,” bebernya.

Sebelumnya, politisi Partai Golkar, Gde Sumarjaya Linggih (Demer) mengkritisi pembangunan Pusat Kebudayaan Bali dengan meminta agar kebudayaan Bali jangan di-museum-kan. Pernyataan itu telah memicu bantahan keras dari sejumlah budayawan terkemuka Bali. Salah satunya dari Prof. Bandem. alt

Baca juga :  Pesta Miras Saat Pandemi, Satgas Desa Peguyangan Kangin Amankan 8 Warga Luar Bali

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.