Listibiya Dukung Pembangunan PKB di Gunaksa

  • Whatsapp
GUBERNUR Koster didampingi Gede Darmawa berfoto bersama dengan jajaran Listibiya Provinsi Bali. foto: ist

DENPASAR – Majelis Pertimbangan dan Pembinaan Kebudayaan (Listibiya) Bali menyampaikan dukungan terhadap pembangunan Pusat Kebudayaan Bali di Gunaksa, Kabupaten Klungkung.

Dukungan itu disampaikan jajaran Listibiya Prof. Dr. I Made Bandem; Dr. I Wayan Astita; Ida Rsi Agung Wayabiya Sogata Karang; dan Drs. I Wayan Geriya; saat bertemu Gubernur Bali, I Wayan Koster yang didampingi Plt. Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, I Gede Darmawa, di Denpasar.

Bacaan Lainnya

Prof. Bandem menyampaikan, dukungan itu karena Bali membutuhkan ruang, sarana dan prasarana yang modern dan canggih untuk melahirkan karya seni-karya seni bermutu tinggi serta berkualitas internasional. “Saya meyakini bahwa pembangunan Pusat Kebudayaan Bali ini adalah bagian penting dari strategi pembinaan kebudayaan yang bersifat horizontal dan vertikal,” katanya.

Dijelaskan, pembinaan dan pengembangan yang bersifat horizontal menekankan pada pemerataan, di mana kesenian Bali yang bersifat wali dan bebali (sakral dan seremonial) harus ditingkatkan keberadaan dan kualitasnya serta dikembalikan fungsinya untuk kepentingan upacara keagamaan. Kesenian ini menjadi sumber penciptaan kesenian balih-balihan (sekuler), dan apabila seni-seni sakral itu punah maka roh (taksu) kesenian Bali akan punah pula.

Sebaliknya, lanjut dia, pembinaan dan pengembangan yang bersifat vertikal bertumpu sepenuhnya pada peningkatan mutu (kualitas) dan dilakukan dengan mengadakan festival-festival, parade, lomba-lomba, rekonstruksi, kreativitas, inovasi dan cara-cara lainnya agar kesenian itu memiliki standar nasional dan internasional.

Baca juga :  Sidak Masker di Ubung Kaja, 15 Orang Langsung Didenda

Pembinaan dan pengembangan yang bersifat vertikal ini juga dilakukan dengan penetapan standarisasi dan sertifikasi terhadap sekaa-sekaa, sanggar-sanggar seni, yayasan, dan galeri yang kini jumlahnya mencapai 10.049 buah menurut data Listibiya tahun 2015.

“Strategi pembinaan dan pengembangan dengan cara terakhir ini mutlak membutuhkan adanya Pusat Kebudayaan Bali. Karena, festival, parade, lomba-lomba, rekonstruksi, serta berbagai kegiatan itu membutuhkan panggung serta ruang pamer dengan standar tinggi, yang tentunya nanti akan tersedia di Pusat Kebudayaan Bali,” jelasnya.

Sementara itu, Gubernur Koster menyampaikan apresiasi atas dukungan Listibiya ini. “Semoga nantinya Pusat Kebudayaan Bali akan bisa sungguh-sungguh berperan tidak hanya dalam melestarikan warisan tradisi kita, tetapi juga dalam mengembangkan kesenian dan kebudayaan kita agar dapat menjawab persoalan dan tantangan jaman,” harapnya.

Gubernur Koster memaparkan bahwa Pusat Kebudayaan Bali, yang dibangun di atas lahan seluas lebih dari 300 hektar, akan terdiri dari bangunan-bangunan yang menggambarkan filosofi Sat Kerthi dalam bentuk Padma Bhuwana, seperti bangunan kawasan danu, segara, wana, atma, jana dan jagat kerthi.

Di sentrifugal dari kawasan itu barulah dibangun berbagai teater dengan dengan ukuran yang berbeda-beda seperti proscenium stage (dua sisi), thrust stage (tapal kuda 3 sisi), arena stage (panggung 4 sisi), dan panggung yang lebih kecil untuk seni-seni khas lainnya. Gedung untuk Pusat Data Kebudayaan Bali juga akan dibangun di sana.

Baca juga :  Bulan Bahasa Bali, Desa Adat Bitera Gelar Beragam Lomba

Pusat Kebudayaan Bali ini juga dilengkapi dengan museum tematik, seperti museum seni lukis, museum patung, museum tekstil, museum kerajinan (ukir), museum obat, museum topeng, museum subak, dan museum digital lainnya. kawasan ekonomi kreatif juga disiapkan untuk memperoleh dana pemeliharaan kawasan kebudayaan itu.

Kompleks kawasan kebudayaan ini digunakan sebagai wahana, pemeliharaan, pengembangan, pemanfaatan, dan pembinaan seni dan budaya dalam berbagai bentuk kegiatan seperti Pesta Kesenian Bali, Festival Bali Jani, Jantra Kebudayaan Bali, dan Perayaan Kebudayaan Dunia.

Dalam pertemuan tersebut para pimpinan Listibiya juga melaporkan bahwa masa bakti mereka telah berakhir pada Januari 2021.

Sesuai dengan Perda Nomor 4 Tahun 2020 tentang Penguatan Pemajuan Kebudayaan Bali, Listibiya Provinsi Bali akan dilebur menjadi Majelis Kebudayaan Bali (MKB), sebuah organisasi non Pemerintah dengan cakupan yang lebih luas dari Listibiya sendiri, bertugas membantu Pemerintah untuk memelihara, mengembangkan, memanfaatkan, dan membina kebudayaan Bali. alt

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.