DBD Mulai Muncul di Kuta Selatan

  • Whatsapp
PENYAKIT Demam Berdarah Dangue (DBD) mulai muncul di Kecamatan Kuta Selatan. Puskesmas Induk Kecamatan Kuta Selatan mencatat sejak awal 2021 sampai saat ini sudah ada belasan kasus DBD. Foto: net
PENYAKIT Demam Berdarah Dangue (DBD) mulai muncul di Kecamatan Kuta Selatan. Puskesmas Induk Kecamatan Kuta Selatan mencatat sejak awal 2021 sampai saat ini sudah ada belasan kasus DBD. Foto: net

MANGUPURA – Penyakit Demam Berdarah Dangue (DBD) mulai muncul di Kecamatan Kuta Selatan. Puskesmas Induk Kecamatan Kuta Selatan mencatat sejak awal 2021 sampai saat ini sudah ada belasan kasus DBD.  ‘’Dari awal tahun 2021 hingga saat ini, tercatat 17 kasus DBD di wilayah Kecamatan Kuta Selatan,’’ kata Kepala UPTD Puskesmas Kuta Selatan, dr. IGNB Sastrawan Dj., Mkes., Selasa (16/2/2021).

Ia merinci pada Januari terdapat 13 kasus DBD, dan Februari 4 kasus DBD. Dari 17 kasus DBD itu tersebar di Desa Ungasan dan Kelurahan Benoa masing-masing 4 kasus, berikutnya  3 kasus di Kelurahan Tanjung Benoa, 1 kasus di Desa Pecatu, dan 5 kasus di Jimbaran.

Bacaan Lainnya

Lebih jauh diutarakan Sastrawan, dari 17 penderita DBD di Kuta Selatan, kebanyakan usia remaja yakni umur 14-24 tahun sebanyak tujuh orang. Kemudian usia anak-anak 5-15 tahun sebanyak lima orang. Umur 25-44 tahun sebanyak tiga orang, serta masing-masing satu orang pada usia balita 1-4 tahun dan di atas 45 tahun. ‘’Dari 17 penderita DBD, 9 orang berjenis kelamin laki-laki dan 8 orang perempuan,’’ imbuhnya.

Mengantisipasi kasus DBD agar tak meluas, pihaknya mendaku akan melaksanakan program Gertak PSN (Gerakan Serentak Pemberantasan Sarang Nyamuk), serta Jumantik (Juru Pemantau Jentik) di masing-masing wilayah bergerak melakukan pemberantasan sarang nyamuk. Selain peran petugas, ia berharap agar masyarakat senantiasa menjaga kebersihan dan kesehatan diri atau pun lingkungan.

Baca juga :  Arya Wibawa Ingatkan ASN Taat Prokes dan Maksimalkan Pelayanan

Termasuk melalui langkah pemberantasan sarang nyamuk dengan pola 3M Plus, yaitu menguras atau membersihkan tempat penampungan air, menutup tempat penampungan air, dan memanfaatkan atau mendaur ulang barang bekas yang berpotensi menjadi tempat berkembangbiaknya nyamuk. Sementara plusnya, memelihara ikan pemakan jentik nyamuk, menggunakan obat anti nyamuk, memasang kawat kasa pada jendela dan ventilasi, gotong royong membersihkan lingkungan, periksa tempat-tempat penampungan air, meletakkan pakaian bekas pakai dalam wadah tertutup, memberikan larvasida pada penampungan air yang susah dikuras, memperbaiki saluran dan talang air yang tidak lancar, serta menanam tanaman pengusir nyamuk. gay

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.