Corona Gerus Pendapatan PDAM Gianyar Rp1 Miliar per Bulan

  • Whatsapp
DIREKSI Perusda Air Minum Tirta Sanjiwani. Gegara pandemi tak kunjung pergi, BUMD Pemkab Gianyar itu kehilangan pendapatan mencapai Rp1 miliar per bulan. Foto: adi
DIREKSI Perusda Air Minum Tirta Sanjiwani. Gegara pandemi tak kunjung pergi, BUMD Pemkab Gianyar itu kehilangan pendapatan mencapai Rp1 miliar per bulan. Foto: adi

GIANYAR – Dampak ekonomi dari pandemi Covid-19 turut dirasakan Perusda Air Minum Tirta Sanjiwani (PAMTS), atau lebih dikenal dengan PDAM Gianyar. Gegara pandemi tak kunjung pergi, BUMD Pemkab Gianyar itu kehilangan pendapatan mencapai Rp1 miliar per bulan. Tergerusnya pendapatan PDAM tersebut karena banyak pelanggan berhenti berlangganan akibat tidak mampu membayar, selain ada juga pelanggan berubah golongan yang awalnya golongan niaga menjadi golongan rumah tangga. 

Dirut Perusda Sanjiwani, Made Sastra Kencana, mengakui pelanggannya mengalami pengurangan karena persoalan ekonomi. “Pelanggan banyak berkurang. Banyak yang berhenti karena tidak mampu bayar, ada yang beralih ke saluran alternatif ke sumur,” ujarnya, Kamis (24/6/2021).

Bacaan Lainnya

Dampak dari itu, pendapatan turun rata-rata Rp1 miliar per bulan. Padahal instansinya memproyeksi atau merancang pendapatan tahun 2021 sebesar Rp7,3 miliar per bulan. Tahun 2020 pendapatan masih stabil, tapi langsung berkurang ketika memasuki tahun 2021. Salah satu zona yang menyebabkan pendapatan Perusda berkurang adalah Ubud. Pendapatan di Ubud, dari  Rp1,5 miliar per bulan menjadi hanya Rp1 miliar. “Itu karena mereka banyak yang turun golongan, dari niaga ke rumah tangga,” urainya.

Meski pendapatan turun Rp1 miliar per bulan, dia menegaskan komitmen untuk memenuhi pelayanan. Hanya, dia berharap suramnya pendapatan itu tidak terjadi hingga Desember 2021. Sebab, jika kondisi ini terjadi sampai Desember, dia khawatir tidak bisa menyumbang kontribusi ke Pendapatan Asli Daerah (PAD) Gianyar.

Baca juga :  Trek-trekan di Gatsu, Polresta Denpasar Tangkap 33 Pemuda

Dari data yang ada, dia menyebut sampai Juni 2021 neraca perusahaan menampilkan laba kotor Rp1,19 miliar. Dengan lain ucap, perusahaan masih bisa bergerak, dan masih bisa memberi pendapatan meski sejak pandemi nilainya menurun.

“Waktu belum pandemi, kami dapat laba Rp7 miliar dan bisa menyetor ke PAD sebesar Rp4,2 miliar. Sementara tahun 2020 ini, laba turun drastis Rp1,5 miliar, sehingga hanya bisa nyetor sekitar Rp825 juta,” ungkapnya.

Untuk mengoptimalkan keuangan perusahaan, dia berujar melakukan efisiensi. Namun, sejauh ini perusahaan masih bisa mempertahankan para pegawai, tidak memotong gaji pegawai, dan hak-hak pegawai lainnya. Di luar pelayanan dan hak pegawai, yang bisa dikurangi maka dikurangi. Selain itu, instansi ini juga gencar menagih utang ke pelanggan dengan menggandeng Kejaksaan Negeri Gianyar.

Pada tahun ini, sambungnya, penagihan kejaksaan belum dilakukan, karena masih mengedepankan pendekatan persuasif. “Tunggakan pelanggan awalnya Rp2,8 miliar, tapi setelah dilakukan pendekatan persuasif sekarang tinggal Rp2,5 miliar,” tandasnya. adi

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar anda diproses.