BPNB Bali Harap Muncul Generasi Penerus Kejayaan Dramatari Arja

  • Whatsapp
SUASANA kegiatan Workshop Dramatari Arja yang digelar BPNB Bali tanggal 25-27 Oktober 2021 di Denpasar. Foto: ist

DENPASAR – Dramatari Arja merupakan kesenian tradisional Bali yang terkenal. Setiap kabupaten di Bali, sejak zaman dahulu telah memiliki Arja dengan berbagai style atau gayanya masing-masing. Pada tahun 1920-an sampai 1960-an, kesenian ini menemukan kejayaannya, di mana setiap pementasannya selalu dipadati penonton.

“Durasi yang panjang yaitu sekitar 5-6 jam tidak menyurutkan niat penonton untuk menyaksikan jalannya cerita hingga penghujung. Wajar saja dramatari Arja pada zaman itu menjadi tontonan sekaligus hiburan utama masyarakat, mengingat pola hidup masyarakat serta kebiasaan yang dianut tidaklah seperti sekarang,” ungkap Kepala Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Provinsi Bali, I Made Dharma Suteja, Selasa (26/10/2021).

Bacaan Lainnya

Dharma Suteja melanjutkan, setelah masa kejayaannya berakhir, eksistensi dramatari Arja perlahan tapi pasti, mengalami kemunduran. Bahkan tidak jarang, setelah ditinggalkan oleh para generasi emasnya, sangat sulit ditemukan seniman yang memiliki bakat sekaligus niat untuk melanjutkannya.

Melihat fenomena ini, BPNB Provinsi Bali melaksanakan Pemajuan Kebudayaan Melalui Pelestarian Teater Rakyat Tradisional kepada Generasi Muda “Workshop Dramatari Arja”. Adapun tujuan dari kegiatan workshop dramatari Arja adalah sebagai upaya pelestarian (pelindungan, pemanfaatan, pengembangan, dan pembinaan) kesenian dramatari Arja.

Baca juga :  Langgar Waktu PPKM, Pengunjung Kafe Diminta Pulang

Dalam workshop ini, BPNB Provinsi Bali menghadirkan tiga orang narasumber yang sudah mumpuni di bidang kesenian Arja, yakni I Gede Anom Ranuara, Desak Made Suarti Laksmi, dan Ni Made Murdani. Kegiatan ini berlangsung 25-27 Oktober 2021 di Hotel Golden Tulip Essential, Kota Denpasar. Peserta berasal dari sekaa teruna (yowana), generasi muda pecinta seni, dan siswa/siswi SMA/SMK berjumlah sebanyak 25 orang.

Melalui kegiatan workshop ini, diharapkan dapat menggugah peminat terutama dari generasi muda terhadap kesenian tradisional yang sarat akan pesan dan falsafah kehidupan. “Kesenian teater tradisional ini memiliki nilai-nilai filsafat yang sangat tinggi dan sangat perlu melestarikan dan meregenerasikannya kepada generasi muda,” pungkas Dharma Suteja. rap

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.