POSMERDEKA.COM, MATARAM – Anggota Komisi IX Fraksi PAN DPR RI, Muazzim Akbar, mengklaim program Makan Bergizi Gratis (MBG) bukan sekadar upaya memperbaiki nutrisi anak-anak, tapi menciptakan pertumbuhan ekonomi di wilayah perdesaan. Alasannya, MBG memberi peluang kerja dan perekonomian lokal di desa akan tumbuh dan bergerak.
“Saya keliling ke Lombok Timur untuk sosialisasi bersama Badan Gizi Nasional (BGN). Di situ akan ada penyerapan 47 pekerja setiap dapur di satu desa untuk memasak menu program,” sebutnya, Sabtu (8/2/2025).
“Ini belum termasuk pengadaan pasokan bahan-bahan dari desa setempat, mulai beras, sayur, telur, ikan hingga daging atau ayamnya. Itu artinya, ada peluang kerja dan perekonomian lokal akan tumbuh di desa dan bergerak setiap harinya,” sambung Ketua DPW PAN NTB ini.
Baginya, MBG merupakan program unggulan Presiden Prabowo yang sangat mulia. Dengan memanfaatkan hasil pertanian dan peternakan setempat, program itu diharap dapat mendorong kebangkitan ekonomi perdesaan. Pun mencegah terjadinya surplus panen terbuang.
Yang akan menjadi tim dan petugas masak adalah warga lokal, sehingga berdampak pada meningkatnya penghasilan masyarakat di daerah. “85 persen anggaran itu untuk membeli bahan baku produk pertanian. Ini adalah uang yang akan beredar di masyarakat,” klaimnya.
Di NTB, ulasnya, baru dua daerah yang sudah uji coba MBG, yakni di Kecamatan Sakra di Kabupaten Lombok Timur (Lotim), dan Selaparang di Kota Mataram. Satuan Pemenuhan Pelayanan Gizi (SPPG) atau dapur yang akan dibangun di NTB berjumlah sebanyak 128, dengan uji coba ada 22 SPPG pada Februari ini.
Dia berjanji mengawal ini agar merata di semua kabupaten/kota di NTB. SDM hingga pengadaan harus warga lokal, bukan warga di luar wilayah. Supaya publik tidak ragu, dia menilai keberadaan dapur, pasokan bahan baku hingga pelayanan harus sesuai standar yang diatur dalam ketentuan.
Warga pemasok bahan baku bisa melakukan kerja sama dengan BUMdes hingga koperasi di wilayahnya. Apalagi Kementerian Desa mewajibkan 20% Alokasi Dana Desa (ADD) untuk mendukung program MBG.
Menurut Muazzim, MBG akan mampu menurunkan prevalensi stunting di Indonesia hingga berada di bawah standar Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yaitu 20%. Program MBG akan menyasar sekitar 3 juta penerima manfaat dalam tiga bulan pertama, dengan target meningkat menjadi 6 juta penerima pada tiga bulan berikutnya. Penerima manfaat meliputi anak-anak usia PAUD, SD, SMP hingga SMA, balita, ibu hamil, dan ibu menyusui.
Untuk mendukung pelaksanaan, sebanyak 937 dapur umum disiapkan. Setiap dapur umum itu harus mampu memproduksi 3.000 paket makan bergizi setiap hari. Pemberian MBG per porsi disesuaikan dengan kebutuhan 600 kalori untuk siswa SMP, dan 300 kalori kepada siswa SD. Program ini tetap jalan selama bulan puasa, tapi menu makanan akan dibawa pulang oleh siswa.
Soal siswa sekolah swasta di bawah naungan ponpes, dia menegaskan juga akan menerima MBG. Sebab, program MBG tidak membedakan status siswa, apakah sekolah negeri atau swasta, atau apakah masuk kategori siswa miskin dan kaya. Anggaran yang disepakati dengan pemerintah mencapai Rp171 triliun untuk tahun 2025.
“Untuk Provinsi NTB, karena MBG menjadi solusi di tengah tingginya angka pengangguran, saya target April-Mei sudah terlaksana seluruhnya dengan menu yang akan diawasi BPOM. Jam memasak diatur Badan Gizi Nasional,” tandasnya. rul
























