DULU, zona 1980-an di ranah industri film nasional, aktris senior Suzzana (1943-2008) dijuluki ‘ratu horor film Indonesia’. Tentu, berkat sukses aktris kawakan tersebut memerankan tokoh menyeramkan di sejumlah film. Sebut saja, “Beranak dalam Kubur” (1971), “Ratu Ilmu Hitam” (1981), “Sundel Bolong” (1983) atau serial film “Nyai Roro Kidul, Ratu Pantai Selatan” yang melegenda.
Kini, lima tahun terakhir ketika film horor jadi primadona, rupanya aktris berbakat asal Bali, I Gusti Ayu Laksmiyani, yang nama populernya Ayu Laksmi, disebut sebagai ‘ratu horor’ , setelah film yang dibintangi “Pengabdi Setan” (2017) meledak di pasaran. Dan, awal Agustus 2022, film “Pengabdi Setan #2” yang kembali dibintanginya mulai dirilis di jaringan bioskop nasional.
Dijumpai saat peluncuran Panitia Festival Film Internasional Bali Makarya (FFIBM) 2022, Ayu Laksmi mengakui berkat perannya di “Pengabdi Setan” #1, kini dirinya diguyur tawaran di industri film. Tapi dirinya memilih selektif, menolak latah aji mumpung. “Saya hanya bersedia kalau skenario yang ditawarkan membuat jatuh hati,” ucapnya ringan sembari mengulum senyum.
Menurutnya, selain harus ada chemistry, dari sutradara, script, dan karakter, tapi terpenting soal waktu. “Karena kadang ada film bagus tapi waktunya enggak ketemu. Itu saya sebut tidak berjodoh,” sambungnya.
Setelah sukses di film “Pengabdi Setan” (2017) di tahun yang sama pegiat genre world music ini juga berperan di film Sekala Niskala . Tapi, sebelumnya Ayu Laksmi telah memulai karier di dunia film sejak berperan di “Under the Tree (2008)”) dan film “Soekarno” (2013).
Tapi namanya baru berkibar secara nasional setelah film “Pengabdi Setan” (2017) dan “Bumi Manusia” (2019) diapresiasi pengamat dan diminati masyarakat penonton. Kemudian berperan di film “Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas” (2021), “Yuni” (2021) , A Perfect Fit (2021), “Teka-teki Tika (2021)”, dan “Puisi Cinta yang Membunuh (2022).
Ayu Laksmi sejak era 1980-an dikenal sebagai penari, penyanyi dan pencipta lagu, sudah sering diundang pentas ke mancanegara. Kini, walau termasuk pendatang baru di layar putih, kehadirannya langsung mengejutkan khalayak industri film nasional.
Bahkan ajang Festival Film Indonesia (FFI) telah memahkotai seniman karakteristik ini dengan tiga Piala Citra berkat aktingnya yang memukau dewan juri FFI di film “Under the Tree” (2008) “Sekala Niskala” (2017 ) dan “Bumi Manusia” (2019).
Pencapaian pegiat seni yang lahir pada 25 November 1967 ini tentunya melalui proses kreatif yang panjang nan berliku sejak mengenal dunia panggung pada usia 4 tahun. Sedari usia belia Ayu Laksmi tercatat aktif menjajal berbagai festival seni, baik dalam skala lokal, nasional, bahkan internasional.
Di lingkungan seniman, budayawan dan pegiat industri kreatif, aktivis budaya dan seniman multitalenta yang terpilih menjadi Duta Lingkungan Hidup Bali 2005, memang dikenal berwawasan dan punya relasi luas dalam konteks budaya lokal, nasional dan global.
Sebagai salah seorang anggota Dewan Pengarah Festival Film Internasional Bali Makarya (FFIBM) Ayu Laksmi yang kini didaulat sebagai ‘duta Bali Makarya’ oleh komunitas pegiat film yang berbasis di Legian tersebut.
Dengan bakat aktingnya dan kemahirannya mengemas buah pikirnya ketika bicara di depan publik, maka penampilan Ayu Laksmi yang kharismatik memang layak menyandang predikat duta komunitas film Bali.
Dengan intonasi vokal yang apik dan pilihan diksi yang mumpuni, aktris watak ini terkesan menguasai atmosfer panggung saat sesi tanya jawab dengan awak media. “Saya berharap Bali Makarya akan menjadi akses bagi para sineas lokal di Bali kelak mampu tampil di kancah film internasional,” ucapnya nyaris berseru.
Diingatkan, hendaknya festival film Bali Makarya 2022, dijadikan ajang untuk berproses kreatif dalam ranah perfilman. “Festival ini adalah peluang , jangan biarkan berlalu sia-sia, jadikan momen ini sebagai akses untuk target go global,” harapnya, sembari minta hadirin tepuk tangan. “Sukses ya,… katakan saya pasti bisa…!” (Putu Suarthama)
























