Arsa Linggih Berpotensi Picu Milenial Jajal Politik Elektoral, Diferensiasi Isu Jadi Pembeda

AKADEMISI FISIP Universitas Udayana, Kadek Dwita Apriani. Foto: ist
AKADEMISI FISIP Universitas Udayana, Kadek Dwita Apriani. Foto: ist

DENPASAR – Kehadiran Arsa Linggih, kaum milenial yang serius terjun ke politik elektoral di jalur pemilihan anggota DPD RI Dapil Bali, sesungguhnya bukan hal baru sekali. Di sisi lain, keseriusan Arsa baru akan terlihat potensi keberhasilannya ketika program yang ditawarkan memiliki kaitan dengan visi pemilih muda yang menjadi ceruk suaranya. Diferensiasi isu dan gagasan dengan kontestan dari generasi lebih tua akan menjadi faktor pembeda.

Akademisi FISIP Universitas Udayana, Kadek Dwita Apriani, Jumat (6/5/2022) menilai, isu kaum milenial sesungguhnya mulai muncul sejak 2019. Tepatnya ketika kata “politik elektoral” dan “milenial” sangat sering muncul dan disambungkan mengingat besarnya potensi pemilih milenial. Namun, jika melihat pendekatan dalam perilaku memilih di Indonesia, selain usia juga masih ada faktor lain yang membuat orang terhubung dengan kandidat yang ingin dipilih.

Bacaan Lainnya

“Maksudnya, tidak selamanya calon berusia muda akan dipilih kaum milenial itu sendiri. Kita mesti lebih dalam lagi melihat apakah kandidat milenial itu membawa program yang dianggap related (terhubung) dengan anak sekarang, related dengan visi pemilih muda,” urai dosen muda lulusan FISIP Universitas Indonesia tersebut.

Baca juga :  PSN Korda Badung Kupas Makna Banten Galungan dan Kuningan

Melihat keberanian Arsa Linggih, Dwita melihat ada satu harapan. Alasannya, selama ini milenial terlihat seperti antipati dengan politik elektoral. Karena itu pula, ketika Arsa muncul jauh-jauh hari menyatakan maju ke DPD RI, sikap itu layak dipuji. Meski, sambungnya, publik juga tahu Arsa besar di lingkungan politisi Golkar yang sangat kental. “Orang juga kan tahu ayahnya (I Gde Sumarjaya Linggih) siapa,” papar akademisi dengan disertasi mengenai peran perempuan dalam Pilkada Karangasem 2015 tersebut.

Terlepas dari semua “modal dasar politik” Arsa, Dwita tetap mengapresiasi keberaniannya. Hanya, dia mengingatkan kontestasi 2024 masih jauh. Bagus juga Arsa bersiap sejak sekarang, bagus mulai mengumpulkan anak muda sejak sekarang, apalagi berdasarkan data ceruk pemilih milenial dan Gen Z jumlahnya sangat besar. Singkat tutur, jumlah pemilih muda memang potensi besar, dan bisa direbut dengan membangkitkan optimisme milenial dan Z-nial.

“Meraih spirit elektoral milenial dan Z-nial juga sangat penting. Mungkin perlu dilakukan pendidikan politik kepada Z-nial dan milenial, karena cenderung antisipasi dengan politik,” sarannya.

Menimbang gebrakan dilakukan jauh-jauh hari, Dwita memandang langkah Arsa berpotensi diikuti milenial yang lain. Jika di Jakarta tren milenial ke politik elektoral sejak 2019, bisa jadi trend ini akan dibawa ke Bali oleh Arsa pada 2022. Yang penting harus punya diferensiasi dalam kontestasi, dalam artian mengambil isu yang milenial dapat sangat terhubung.

Baca juga :  Dinas Dagperinkop UKM Buleleng Gelar Pasar Murah, 1.140 Liter Minyak Goreng Ludes Diserbu Warga

“Bisa saja 2024 nanti milenial yang maju akan lebih signifikan, mengingat sebenarnya kalau dalam politik setiap masa ada orangnya, dan setiap orang ada masanya,” lugas akademisi berparas ayu ini.

Karena cukup jauh perbedaan usia, Dwita melihat masa golongan milenial mulai tiba, dan cara-cara milenial berpolitik niscaya berbeda dengan generasi sebelumnya. Tak hanya sebatas teknologi, tapi juga isu yang diguncangkan. Misalnya generasi milenial dan Z-nial sebagai sandwich generation (beban ganda) yakni masih punya orangtua yang harus dihidupi, dan pada saat yang sama punya keluarga kecil yang diampu. Salah satu isu menarik yang terkait yakni bagaimana mengelola kehidupan generasi beban ganda tersebut.

“Saat pandemi seperti ini, orang jadi berubah pola dan pendapatan kerja. Situasi belum pasti. Isu ini lebih menarik dibandingkan dengan generasi zaman dulu yang sosialisasi dengan cara menyumbang pembangunan balai banjar. Artinya, mungkin tidak ke arah sana lagi dalam kontestasi isu,” pungkasnya. hen

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.