Alasan Ini, Pembelajaran Tatap Muka Awal Januari di Denpasar Ditunda Hingga Maret 2021

  • Whatsapp
Ilustrasi. Foto: net
Ilustrasi. Foto: net

DENPASAR – Pemkot Denpasar menunda pelaksanaan pembelajaran tatap muka (PTM) sekolah, khususnya di tingkat TK/PAUD, SD, dan SMP mulai semester genap Januari 2021. Dalam rapat yang digelar Komisi IV DPRD Kota Denpasar bersama Disdikpora Denpasar, menyepakati bahwa kegiatan PTM ditunda hingga Maret 2021. Alasannya, pandemi Covid-19 belum melandai dan masih dalam kisaran 26,3 persen.

Rapat yang digelar di Ruang Sidang DPRD Kota Denpasar, Selasa (22/12/2020) siang, dihadiri Komisi IV yang dipimpin Ketua Komisi I Wayan Duaja. Sedangkan dari pihak Disdikpora Denpasar dihadiri I Wayan Gunawan selaku Kadisdikpora.

Bacaan Lainnya

Dalam kesempatan tersebut, I Wayan Gunawan memaparkan, ada beberapa faktor yang harus diperhatikan dalam proses PTM. Pertama, yakni faktor risiko penularan atau penyebaran Covid-19. Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Kota Denpasar, untuk tingkat resiko penyebaran Covid-19 di Kota Denpasar sebesar 26,3 persen. Artinya, jika dilakukan tes kepada 100 penduduk, sebanyak 26,3 persennya positif Covid-19.

‘’Kondisi ini sangat berbahaya, apalagi untuk siswa-siswi tingkat SD dan SMP. Bayangkan jika anak-anak positif Covid-19, mereka harus diisolasi atau masuk rumah sakit tanpa pendampingan, terutama psikis mereka. Kesehatan anak yang diutamakan,’’ beber Gunawan.

Baca juga :  Kasus Positif Covid-19 di Denpasar Bertambah 1 Orang Transmisi Lokal

Kemudian yang kedua yakni terkait kesiapan fasilitas kesehatan jika nantinya ada peserta didik yang ternyata positif Covid-19. Dengan kondisi tersebut, pihaknya pun harus mempersiapkan rumah singgah yang layak anak.

Lalu ketiga adalah terkait kesiapan sekolah untuk mempersiapkan protokol kesehatan. Termasuk salah satunya adalah jarak tempat duduk antar siswa yakni minimal 1.5 meter. Pertimbangan keempat yakni akses untuk melakukan pembelajaran daring.

Gunawan juga memaparkan telah melakukan rapat dengan Pj. Sekda Kota Denpasar bersama beberapa OPD terkait terkait masalah ini. ‘’Berdasarkan rapat tersebut, sebagian besar OPD terkait mengharapkan untuk menunda pembelajaran tatap muka sampai Maret 2021. Sambil menunggu cukup dilakukan simulasi tatap muka,’’ kata Gunawan.

Dalam simulasi ini nantinya akan dilakukan evaluasi yang ketat sehingga saat penerapan pembelajaran tatap muka sudah siap. Dalam simulasi ini pihaknya akan menunjuk beberapa sekolah yang telah memenuhi persyaratan yakni sekolah tersebut harus masuk dalam wilayah zona hijau dan maksimal zona kuning. Sedangkan siswa maupun guru yang boleh ikut simulasi juga harus berasal dari zona hijau dan zona kuning.

‘’Semua itu bisa dilihat dalam aplikasi Jagabaya. Dari sana sekolah akan melihat siapa saja siswa yang bisa ikut simulasi,’’ kata Gunawan.

Lalu, sambungnya, jika nantinya ada siswa yang dari zona merah atau oranye memaksa datang ke sekolah maka akan dipulangkan. Sekolah yang ditunjuk sebagai tempat simulasi juga menyiapkan sarana protokol kesehatan yang lengkap. ‘’Lama anak di sekolah dalam simulasi tidak boleh lebih dari 2 jam pelajaran. Dan peserta didik paling banyak hadir ke sekolah seminggu dua kali,’’ imbuh Gunawan.

Baca juga :  BNN Tes Urine Pegawai Kejari Amlapura

Ia juga mengatakan, kalaupun pembelajaran tatap muka sudah dilaksanakan, itu hanya untuk mengobati kerinduan anak pada sekolah. Sementara untuk kurikulum dilakukan di rumah dengan melakukan pembelajaran di rumah atau daring maupun luring. Pihaknya juga akan mendata guru yang memiliki penyakit bawaan agar tidak ikut dalam simulasi maupun pembelajaran tatap muka selama pandemi.

Guru juga akan menjalani tes, baik tes usap (swab test) maupun tes cepat (rapid test) yang dilakukan oleh Dinas Kesehatan mulai Januari 2021.

Sementara itu, Ketua Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) SMP Kota Denpasar, I Wayan Murdana, mengatakan, selama pembelajaran daring yang digelar satu semester ini, secara umum telah berjalan baik hingga pembagian rapor yang digelar hingga 19 Desember 2020. ‘’Dari 76 SMP di Denpasar, semester I ini sudah berjalan baik dengan sistem daring. Tidak ada masalah berarti dan sesuai kurikulum, meskipun tidak maksimal,” ujarnya.

Sementara untuk pembelajaran tatap muka, pihaknya juga berharap dilaksanakan secara bertahap. Apalagi di lapangan sudah tersebar asumsi dari orang tua maupun beberapa kepala sekolah bahwa Januari 2021 sudah tatap muka.

Padahal pemahaman yang diharapkan bukan seperti itu, mengingat diperlukan persiapan yang sangat matang agar jangan sampai ada klaster sekolah. ‘’Secara administrasi sudah siap. Yang penting sekarang jangan sampai ada kesan Januari sekolah sudah dibuka. Akan lebih bagus simulasi dan tracing Disdik mana yang bisa dan mana yang tidak,’’ katanya.

Baca juga :  Murung Badung PHR Dibendung

Ia juga meminta ada surat edaran kepada kepala sekolah sebagai pedoman apa yang harus dikerjakan, agar jangan sampai ada keinginan dari kepala sekolah membuka sekolah apalagi dengan adanya desakan dari orang tua.

Lalu, kepada siapa simulasi nanti diterapkan? Murdana pun berharap agar simulasi dilakukan untuk kelas VII, dengan tahapan yang kelas semisal dalam sehari dilakukan untuk dua kelas dengan siswa tidak lebih dari setengah jumlah rombongan belajar.

Dari pemaparan tersebut, semua anggota komisi secara umum menyetujui ada yang dipaparkan oleh Disdikpora. Ketua Komisi IV DPRD Kota Denpasar, I Wayan Duaja mengaku sepakat dengan apa yang dipaparkan oleh Kadisdikpora maupun Ketua MKKS.

‘’Untuk awal dalam masa peralihan tersebut, SMP lebih dulu melakukan sosialisasi dan kami sepakat. Guru juga memang perlu dirapid test walaupun di sekolah sudah ada protokol kesehatan,” katanya.

Ia menambahkan, dalam proses simulasi, dewan pun akan turun melakukan pemantauan. Anggota Komisi IV, I Wayan Warta menambahkan, dalam pelaksanaan sekolah tatap muka termasuk simulasi, diperlukan kehati-hatian. Sebab, jangan sampai malah menimbulkan kehebohan karena ada siswa yang terpapar Covid-19 di sekolah.

“Semisal ada satu siswa terpapar, ini akan heboh dan merusak citra pendidikan. Apalagi di zaman media sosial seperti sekarang. Orang tua bisa curhat di media sosial dan kadang bisa dibesar-besarkan,” tandasnya. tra

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.