19 Mata Budaya Bali Jadi WBTB Indonesia

  • Whatsapp
BE guling atau babi guling, salah satu dari 19 mata budaya Bali yang tahun ini ditetapkan sebagai WBTB Indonesia. Foto: ist
BE guling atau babi guling, salah satu dari 19 mata budaya Bali yang tahun ini ditetapkan sebagai WBTB Indonesia. Foto: ist

DENPASAR – Sebanyak 19 mata budaya Bali kembali ditetapkan menjadi Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Indonesia. Sidang Penetapan WBTB tahun 2021 dilaksanakan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbud Ristek) di Jakarta, 30 Oktober 2021. Dengan bertambahnya 19 item kebudayaan yang lolos dalam penetapan itu, kini total sudah ada 83 WBTB Indonesia dari Bali.

Sebanyak 19 usulan mata budaya tersebut antara lain Tradisi Meteruna Nyoman di Desa Adat Tenganan Pegeringsingan, Desa Tenganan, Kecamatan Manggis (Karangasem); Kain Tenun Cepuk Nusa Penida di Desa Tanglad, Kecamatan Nusa Penida (Klungkung); Ritual Dewa Mesaraman di Pura Panti Timbrah, Desa Paksebali, Kecamatan Dawan (Klungkung); Genjek Karangasem, Kabupaten Karangasem.

Bacaan Lainnya

Kemudian kesenian Barong Nong Nong Kling, di Desa Adat Aan, Kecamatan Banjarangkan (Klungkung); Tari Seraman di Desa Adat Kebon Bukit, Desa Bukit, Kecamatan Karangasem (Karangasem); Joget Nini di Desa Adat Buruan, Kecamatan Penebel (Tabanan); Tari Abuang Luh Muani di Desa Adat Tenganan Pegeringsingan (Karangasem); Tradisi Saba Malunin di Desa Pedawa, Kecamatan Banjar (Buleleng); Permainan Gangsing, Kabupaten Buleleng.

Ada juga Tari Rejang Ilud di Desa Buahan, Kecamatan Payangan (Gianyar); Kerajinan Ata Karangasem; Gambuh Bungkulan di Puri Sari Abangan, Desa Bungkulan, Kecamatan Sawan (Buleleng); Mandolin (ada di seluruh Bali); Be Guling (ada di seluruh Bali); Mecaru Mejaga-jaga di Desa Adat Besang Kawan Tohjiwa, Kelurahan Semarapura Kaja (Klungkung); Tari Baris Babuang di Desa Adat Batulantang, Desa Sulangai, Kecamatan Petang (Badung); Tradisi Ngrebeg Tegalalang di Desa Tegalalang, Kecamatan Tegalalang (Gianyar).

Baca juga :  ‘’Workshop Review’’ Kurikulum 2013, SMP PGRI 2 Denpasar Didorong Jadi Pelopor Pendidikan Merdeka Belajar

Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, Prof. I Gede Arya Sugiartha, S.SKar, M.Hum., menjelaskan, keberhasilan 19 item kebudayaan yang ditetapkan menjadi WBTB merupakan kerjasama dengan dinas kebudayaan kabupaten/kota se-Bali bersama dengan masyarakat atau pemilik kebudayaan tersebut. Awalnya, ada 26 mata budaya yang diusulkan, namun beberapa dikembalikan untuk disempurnakan lagi.

“Pada sidang tahap pertama kami ajukan 26. Baru disetujui 5 budaya, kemudian lebih banyak dikembalikan untuk disempurnakan lagi. Hingga sidang terakhir, kami jadinya mengajukan total sebanyak 19, dan astungkara semuanya lolos,” ujar Arya Sugiartha, Kamis (4/11/2021).

Lebih lanjut Kadisbud mengatakan, dengan ditetapkannya kebudayaan yang dimiliki masyarakat maka secara tidak langsung akan memberikan konstruksi pikiran dan psikologis bahwa sesuatu yang sudah dilindungi patut dijaga. “Kalau sudah ditetapkan, artinya kebudayaan tersebut sudah dilindungi dan memiliki nilai. Masyarakat pasti punya konstruksi berpikir psikologis bahwa ini harus dilindungi karena sudah ditetapkan. Dan tanggung jawab bersama dari masyarakat itu untuk berusaha membangun ekosistemnya, sehingga kebudayaan itu tidak punah,” jelasnya.

Terkait usulan tahun depan, Arya Sugiartha menargetkan sebanyak-banyaknya usulan kebudayaan dari masyarakat. Namun itu semua tergantung kembali pada kesiapan dalam membuat kajian oleh dinas kabupaten/kota bersama masyarakat pelaku kebudayaan itu sendiri. “Biasanya dari bulan Januari usulan mulai masuk dan kabupaten/kota. Masyarakat membuat proposal, kemudian diajukan ke masing-masing dinas kebudayaan di daerahnya. Kami memfasilitasi untuk mengajukan dan mengkomunikasikan ke tingkat pusat,” tandasnya. rap

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.