Rakyat Klungkung Kompak Terima Pembangunan Pusat Kebudayaan Bali

  • Whatsapp
MAKET Pusat Kebudayaan Bali yang akan dibangun di Klungkung. Foto: ist
MAKET Pusat Kebudayaan Bali yang akan dibangun di Klungkung. Foto: ist

Oleh : Made Nariana

RAKYAT Klungkung, khusus masyarakat di lokasi akan dibangunnya Kawasan Pusat Kebudayaan Bali kompak menerima tawaran Gubernur Bali Wayan Koster.

Bacaan Lainnya

“Apa Saudara setuju dibangun Pusat Kebudayaan Bali itu?,” tanya Gubernur usai memaparkan rencana pembangunan proyek monumental tersebut dalam acara Konsultasi Publik, di Balai Budaya Ide I Dewa Agung Istri Kanya, Klungkkung Senin (16/11/2020).

Masyarakat dengan kompak mengatakan ‘setuju’, ‘setuju’…’setuju’….sampai tiga kali. Gubernur langsung ketok palu di mimbar tempat ia memaparkan konsep tersebut dengan sumringah. Tidak ada instrupsi, tidak ada yang menyatakan keberatan.

Dalam konsultasi publik tersebut berbagai unsur hadir baik pejabat dari tingkat provinsi Bali maupun pejabat di kabupaten Klungkung. Sejumlah Bendesa Adat, Kepala Desa, tokoh masyarakat, khususnya masyarakat Desa Tangkas, Jumpai, Desa Gunaksa, Sampalan Kelod, Desa Gelgel dan sekitarnya. Dari Bupati Klungkung sampai dua Klian Subak di daerah tersebut menerima dengan bulat rencana pembangunan tersebut – yang kelak akan membawa dampak sosial-budaya dan ekonomi cukup besar bagi masyarakat setempat.

Sebelumnya Gubernur Koster memaparkan ide awal pembangunan Pusat Kebudayaan Bali (PKB) di Klungkung, yang sudah menjadi pemikirannya jauh-jauh hari sebelum terpilih sebagai Gubernur Bali.

Baca juga :  Transmisi Lokal Makin Mengancam, Sosialisasi Cegah Covid-19 di Bali Harus Lebih Masif

Pembangunan tersebut merupakan wujud dari visi Gubernur; “Nangun Sat Kerthi Loka Bali” guna mengangkat budaya Bali sebagai pusat peradaban dunia (Padma Bhuwana).

Klungkung menjadi pilihan utama, sebab daerah tersebut  pernah mengalami zaman keemasan kebudyaan Bali, saat kerajaan Gelgel dengan raja Waturenggong di zaman dulu. Lokasinya pun mengambil lahan non produkitif, akibat kena lahar Gunung Agung tahun 1963.

Koster menilai, Taman Budaya (Art Center) di Denpasar sudah semakin sempit bagi pengembangan budaya Bali, yang kini semakin semarak di masyarakat. Kawasan Gunaksa Klungkung menjadi strategis, karena dibelah jalan alteri Ida Bagus Mantra, dekat pantai dan dekat gunung. Suasana “nyegara gunung” di Kawasan tersebut akan memperindah Pusat Kebudayaan tersebut, jika sudah jadi tahun 2024. Air yang mengalir dari gunung pun akan ditampung melalui sungai, yang sekaligus akan menjadi tempat rekreasi air di kawasan tersebut.

Saya tidak akan lagi memaparkan filosofi dari Pusat Kebudayaan Bali tersebut, sebab sudah banyak diberitakan di media usai Konsultasi Publik.Namun satu hal yang patut dibanggakan, proyek besar Gubernur Koster tersebut,  begitu mulus sejak tataran ide, konsep, perencanaan, penganggaran dan pelaksanaan.

Gambar konsrtruksi sudah dikerjakan para ahli yang memiliki pengalaman internasional. Anggaran pun sudah ada bayangan lebih dari Rp2 triliun–sehingga apa harapan masyarakat Bali, khususnya masyarakat Klungkung akan menjadi kenyataan.

Baca juga :  Kesehatan Prioritas Utama di Masa Pandemi

Menurut Gubernur Koster, pembangunan Kawasan Pusat Kebudayaan Bali tersebut mendapat dukungan penuh dari Presiden RI Jokowi. Presiden sangat komit dengan pengembangan budaya Bali secara umum, sehingga begitu Gubernur Koster melakukan lobi tingkat tinggi, Presiden Jokowi langsung setuju.

Satu hal yang akan mendapat perhatian adalah SDM (Sumber Daya Manusia) yang akan mengelola Pusat Kebudayaan Bali tersebut. Betapa tidak, akan diperlukan ratusan tenaga dari berbagai keahlian, sebab proyek tersebut dibangun di atas tanah lebih dari 300 hektar.

Panggung terbuka saja kelak kapasitasnya 15.000 sampai 20.000, sangat luar biasa. Sementara Taman Budaya Denpasar kapasitasnya hanya 8.000.

Gubernur menjanjikan SDM Pusat Kebudayaan Bali di Klungkung tersebut harus sebanyak-banyak memanfaatkan tenaga setempat. Oleh karena itu ia berharap, mulai sekarang ditingkatkan mutu pendidikan SDM tersebut, sehingga kelak siap pakai, sebab akan menggunakan teknologi tinggi.

Kini masyarakat sudah setuju, tanpa hambatan. Tinggal eksekusi pelaksanaan, sehingga proyek tersebut akan menjadi peninggalan monumental yang sangat berharga bagi generasi mendatang dalam mengembangkan berbagai kebudayaan daerah Bali. Aspek budaya akan merembet ke sektor ekonomi masyarakat, sebab di sana juga akan dibangun tempat pameran berbagai kerajinan masyarakat Bali dan sekitarnya. (*)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.