Rachmat Ajak Milenial Sebarkan Nilai Pancasila Via Medsos

ANGGOTA DPR RI, Rachmat Hidayat, saat sosialisasi empat Pilar Kebangsaan MPR RI di Ponpes Ar Rahmah NW Pringgarata, Selasa (15/11/2022). Foto: ist

MATARAM – Anggota Fraksi PDIP DPR RI, Rachmat Hidayat, kembali sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan MPR RI. Kali ini menyasar ratusan kaum milenial santri Pondok Pesantren Ar Rahmah Nahdlatul Wathan (NW) Pringgarata Lombok Tengah (Loteng), Selasa, (15/11/2022).

Rachmat menyampaikan pentingnya sosialisasi Empat Pilar Kebanggsaan untuk kaum milenial, agar kelompok berjumlah 68 juta lebih ini paham dengan benar dan tidak lupa jati diri bangsa. Dia pun ingin milenial bisa membantu sosialisasi lewat platform media sosial (medsos) masing-masing.

Read More

“Anak muda harus lebih kreatif, supaya empat Pilar Kebangsaan ini tidak dipahami secara kaku. Bisa membuat konten sosialisasi sekaligus edukasi melalui medsos seperti Facebook,Instagram, atau Tiktok,” pintanya.

Sebagai pemateri, Pengajar Fakultas Ekonomi Bisnis (FEB) Universitas Budi Luhur Jakarta, Hakam Ali Niazi. Diskusi dipandu M Khairil, pengajar Ponpes Ar Rahmah NW Pringgarata. Menurut Khairil, ada hubungan erat dan konstruktif antara Soekarno atau Bung Karno dengan sejumlah tokoh Islam, baik di Nusantara maupun di dunia.

Saat masih remaja, Bung Karno berguru ke tokoh Islam seperti Haji Oemar Said (HOS) Tjokroaminoto. Juga pernah menjadi santri pendiri Muhammadiyah, KH Ahmad Dahlan. Bung Karno juga mendapat bintang kehormatan Muhammadiyah pada 10 April 1965.

Hakam menuturkan, nama Presiden pertama Republik Indonesia itu begitu legendaris di Uzbekistan, negara di Asia Tengah pecahan Uni Soviet, yang penduduknya mayoritas muslim. Tidak banyak yang tahu, Soekarno yang minta pemerintah komunis Soviet agar menemukan makam tersebut Imam Bukhari.

Saat ini kompleks makam Imam Bukhari di Desa Hartang, 25 kilometer dari Samarkand, menjadi salah satu wisata umat Islam seluruh dunia. “Ini penting kita sampaikan, karena selama ini Bung Karno dicap sebagai tokoh yang terlibat komunis dan jauh dengan Islam. Itu semua tidak benar,” serunya.

Khusus bagi para santri yang juga milenial, dia mengingatkan internalisasi pemahaman Empat Pilar Kebangsaan menjadi makin penting. Jika tidak konsisten dinarasikan, milenial akan menjadi eksponen yang rentan disusupi pemahaman radikalisme yang bisa merongrong integrasi bangsa.

“Milenial perlu terlibat aktif menyebarkan nilai-nilai luhur Pancasila, tidak boleh pasif. Sosialisasi ini sebagai ikhtiar mengokohkan pondasi tentang nilai luhur tersebut,” jelasnya.

Turut menjadi pembicara, Dr. Alfisahrin, Wakil Direktur III Politeknik Medica Farma Husada Mataram, yang juga Dosen Fisipol dan Ilmu Komunikasi Universitas 45 Mataram. Dia menyampaikan alasan mengapa sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan urgen.

Pertama, karena masih lemahnya penghayatan dan pengamalan agama, serta munculnya pemahaman agama yang keliru dan sempit. Misalnya munculnya radikalisme yang melahirkan terorisme. “Ini harus diantisipasi agar jangan sampai ada anggota masyarakat yang terpapar radikalisme dan terorisme,” pesannya.

Kedua, masih ada pengabaian terhadap kepentingan daerah dan timbulnya fanatisme kedaerahan. Masih terjadi disparitas pembangunan pusat dan daerah, yang menimbulkan fanatisme kedaerahan, sampai sempat muncul daerah ingin memisahkan diri dari NKRI.

Ketiga, kurang berkembangnya penghargaan terhadap kebinekaan yang melahirkan politik SARA. Karena itu, perlu menghindari politik SARA. “Tetap harus waspada, mungkin saja yang buat hoaks, fitnah, dan adu domba bukan dari calon presiden. Bisa jadi ada pihak ketiga yang mengadu domba sesama anak bangsa,” bebernya
.
Alasan keempat, karena kurangnya keteladanan sebagian pemimpin sebagai tokoh bangsa. Hal tersebut juga selaras dengan ancaman disintegrasi bangsa. “Seperti pengaruh internet dan gadget, ini bisa mempengaruhi jati diri bangsa. Dulu kita punya nilai gotong royong tapi, sekarang sudah mulai individualistik,” sesalnya.

Karena itu, dia mengajak para santri mengamalkan nilai-nilai Pancasila melalui perilaku sederhana seperti tidak tawuran, bolos sekolah, menghormati guru, dan sebagainya. rul

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.