KARANGASEM – Pembangunan pertanian dalam sektor peternakan merupakan satu pendukung pembangunan daerah secara umum. Karena itu salah satu upaya yang dilakukan adalah meningkatkan produksi hasil peternakan.
Kabid Peternakan dan Kesehatan Hewan Dinas Pertanian dan Peternakan Karangasem, Bali, I Made Ari Susanta, Selasa (23/3/2021) mengatakan, Karangasem merupakan salah satu sentra peternakan sapi terbesar di Bali.
Hanya, sistem peternakannya merupakan peternakan rakyat atau skala kecil. Adanya erupsi Gunung Agung tahun 2017 berdampak signifikan terhadap sektor peternakan, terutama komoditi ternak sapi di Karangasem.
“Akibat erupsi tersebut, hampir seluruh jenis komoditi ternak mengalami penurunan populasi karena dijual ataupun dipindah tangankan. Seiring menurunnya status aktivitas Gunung Agung ke level lebih aman, sektor peternakan di Karangasem, terutama peternakan sapi bali, kembali menggeliat,” ujarnya.
Susanta menambahkan, ternak sapi bali yang merupakan salah satu komoditi ternak unggulan di Karangasem, tersebar di seluruh pelosok wilayah Karangasem. Sapi Bali merupakan trah murni asal Indonesia yang nenek moyangnya berasal dari banteng liar (bos javanicus) yang sudah didomestikasi sejak lama.
Keunggulan sapi Bali yakni daya adaptasi yang tinggi terhadap berbagai kondisi lingkungan, adaptasi dengan jenis pakan, dan tingkat fertilitas yang tinggi. Semua itu membuatnya cenderung mudah dalam pemeliharaan.
Diuraikannya, Karangasem adalah kabupaten dengan populasi ternak sapi bali tertinggi nomor dua setelah Buleleng, dengan jumlah populasi 126.437 ekor. Minat pasar terhadap ternak sapi potong (sapi bali) cukup tinggi, terutama untuk kebutuhan ternak sapi potong dari luar daerah Bali. Sebab, kualitas daging yang dihasilkan sapi bali tidak kalah dengan daging sapi jenis lainnya.
Pemeliharaan ternak sapi Bali oleh masyarakat, selain sebagai komoditas jual-beli, juga sebagai investasi dengan nilai ekonomis cukup tinggi. Dengan menggeliatnya peternakan sapi Bali, sebutnya, diperlukan upaya percepatan pengembangan yang tak terlepas dari daya dukung kondisi geografis dan potensi sumber daya alam.
Semua itu sebagai penyedia kebutuhan hidup dan perkembangan komoditi ternak tersebut, dan masyarakat peternak dapat menikmati hasil dalam waktu yang efisien. Sejauh ini, terangnya, di Karangasem 415 kelompok tani ternak sapi.
Dinas Pertanian Kabupaten Karangasem memiliki unit layanan berupa UPTD Puskeswan, Pos Pelayanan Kesehatan Hewan, UPTD BPPP dan BPP yang tersebar di tiap kecamatan yang menjadi ujung tombak pelayanan terhadap peternak.
Adapun upaya yang dilakukan yakni dengan Program Upaya Khusus Sapi Indukan Wajib Bunting (Upsus Siwab) yang beralih menjadi Program Sikomandan alias Sapi Kerbau Komoditas Andalan Negeri. Ini salah satu program nasional untuk meningkatkan populasi dan produksi ternak.
“Program nasional ini sangat dirasakan manfaatnya oleh peternak, dan melalui program ini peternak memperoleh pelayanan inseminasi buatan, pemeriksaan kebuntingan, dan penanganan gangguan reproduksi,” pungkas Susanta. nad
























