POSMERDEKA.COM, GIANYAR – Dinas Pendidikan Kabupaten Gianyar mulai menerapkan sejumlah perubahan dalam Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) Tahun Ajaran 2026/2027. Salah satu yang paling menonjol adalah diberlakukannya Tes Kemampuan Akademik (TKA) sebagai syarat baru, serta jalur afirmasi yang kini berbasis data DTSEN.
Sosialisasi Petunjuk Teknis (Juknis) SPMB digelar di Ballroom Mal Pelayanan Publik (MPP) Gianyar, Selasa (5/5/2026), dan dilaksanakan bertahap di setiap kecamatan. Kegiatan ini diikuti kepala sekolah SD-SMP serta komite sekolah, khususnya dari wilayah Sukawati.
Plt Kepala Dinas Pendidikan Gianyar, I Wayan Mawa, menjelaskan, SPMB merupakan transformasi dari sistem PPDB yang sudah diberlakukan sejak 2025. “Tahun ini ada dua perubahan utama. Pertama, penggunaan TKA yang menggabungkan nilai rapor dan hasil tes. Kedua, jalur afirmasi tidak lagi berbasis kartu seperti PKH, melainkan menggunakan data DTSEN dengan kategori desil 1 sampai 5,” ujarnya.
Hadir dalam kegiatan tersebut Ketua Dewan Pendidikan Gianyar, Dewa Gede Alit Mudiarta; Ketua Komisi IV DPRD Gianyar, Putu Pebriantara; serta Widyaiswara BPMP Bali, Dewa Ayu Sri Herawati.
Mawa menegaskan, pelaksanaan SPMB tetap mengacu pada aturan pusat yang ditindaklanjuti melalui surat edaran Bupati. Sistem penerimaan dilakukan secara objektif, transparan, dan akuntabel, baik melalui jalur online maupun offline.
Adapun jalur yang dibuka meliputi prestasi, nilai rapor dan TKA, domisili, afirmasi, serta mutasi. Persyaratan usia juga tetap, yakni minimal 7 tahun untuk SD dan maksimal 15 tahun untuk SMP. Dewa Ayu Sri Herawati menekankan, kebijakan ini merupakan bagian dari upaya pemerataan dan peningkatan kualitas pendidikan.
“Target nasional 2028 tidak ada lagi sekolah dengan sistem double shift, rasio guru dan siswa seimbang, serta pembelajaran berlangsung aman dan menyenangkan,” jelasnya.
Putu Pebriantara menambahkan, saat ini tidak ada lagi istilah sekolah favorit. Pemerintah daerah terus mendorong pemerataan kualitas dengan menambah 10 SMP negeri baru, sehingga total menjadi 27 sekolah.
Meski demikian, tantangan masih ada. Beberapa sekolah masih mengalami kelebihan siswa dan menerapkan sistem pembelajaran bergilir, karena keterbatasan ruang dan tenaga pengajar. “Ke depan tantangannya cukup berat. Tahun 2028 tidak boleh ada double shift, sehingga perlu tambahan sekolah baru, terutama di Sukawati, Gianyar, dan Blahbatuh,” tegasnya. adi
























