POSMERDEKA.COM, BANGLI – Komoditas kopi asal Bangli, khususnya Kintamani, jadi produk unggulan yang pemasarannya merambah tingkat regional, nasional bahkan sudah internasional. Sayang, sampai saat ini belum ada petani bisa ekspor langsung ke luar negeri, karena masih melalui eksportir dari Buleleng dan Denpasar.
“Petani kita belum mampu melakukan pemasaran langsung ke luar negeri, kita masih dibantu eksportir dari luar Bangli,” tutur Kepala Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan, dan Perikanan (PKP) Bangli, I Wayan Sarma, Rabu (3/5/2023).
Dia berharap dengan kehadiran Menkop dan UMKM ke Bangli, bisa memacu semangat koperasi di Bangli untuk membantu pemasaran kopi bangli ke luar negeri. Dengan demikian, pemasaran kopi menjadi satu pintu. “Kalau koperasi di Bangli bisa menjadi eksportir, tentu kita bisa lebih berdaulat dan lebih fokus meningkatkan kualitas kopi arabika kita,” harapnya.
Sarma juga berharap petani di Bangli, khususnya di Kecamatan Kintamani, bisa menjaga kualitas kopi yang mendapat indikasi geografis dan sudah diakui kualitas rasanya, bisa lebih eksis serta memberi manfaat ekonomi kepada masyarakat. “Kami akan terus memacu kualitas maupun kuantitas kopi arabika kintamani yang mendapat pengakuan terkait cita rasanya,” beber Sarma lagi.
Produksi kopi dari Bangli, sambungnya, sangat tinggi. 54 persen produksi kopi di Bali berasal dari Bangli. Produksi sekarang baru mencapai lima sampai enam ton per hektar. Ini perlu ditingkatkan dengan melakukan pemupukan, pemangkasan dan pengendalian hama. “Itu semua di bawah fasilitasi tenaga penyuluh bersama petani melalui sekolah lapang, belajar dari mereka dan untuk mereka berdasarkan pengalamannya selama ini di lapangan,” pungkasnya. gia
























