Pergub 1/2020 Jadi Pemicu Arak Fermentasi Menjamur

  • Whatsapp
KEPALA Dinas Perindustrian dan Perdagangan Karangasem, I Wayan Sutrisna. foto: net

KARANGASEM – Produsen arak tradisional di Karangasem menghadapi masalah persaingan, dengan membanjirnya arak gula di pasaran. Karena harga arak gula jauh lebih murah, petani arak tradisional tak mampu bersaing sampai kemudian memilih berhenti berproduksi.

Terkait hal ini, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Karangasem, I Wayan Sutrisna, Minggu (25/4/2021) mengatakan sudah membuat tim untuk mengatasi masalah tersebut.

Bacaan Lainnya

Mengacu Pergub Bali Nomor 1/2020, dia akan menertibkan sejumlah produsen arak gula yang mengancam keberlangsungan produsen arak tradisional. “Karena Pergub itu kan untuk melindungi keberlangsungan produsen arak tradisional dan turunannya, sedangkan arak gula tidak termasuk,” jelasnya.

Lebih jauh dikatakan, sejak terbitnya Pergub 1/2020 itu banyak penjual arak yang bermunculan, tapi bukan dari kalangan produsen arak tradisional. Yang banyak justru produsen arak fermentasi gula, meski Pergub itu mengatur tata kelola arak tradisional agar bisa naik daun.

Dia menilai Pergub itu seperti dimanfaatkan untuk mengambil peluang tapi membuat produsen arak tradisional kalah saing. “Ini kan tidak boleh,” tegasnya.
Untuk itu, dia tengah merancang agar ada standardisasi produk untuk mengangkat produk arak tradisional agar bisa dihargai.

Baca juga :  PPKM Tahap II di Badung Fokus Penegakkan Hukum, Usaha Tutup Pukul 20.00

Pemkab Karangasem bersinergi dengan Pemprov Bali mengeluarkan petunjuk teknis dan aturan, salah satunya dengan membuat perumda atau koperasi yang bisa menyerap produk arak tradisional ini. Nanti dijual melalui koperasi kepada beberapa distributor yang memiliki izin edar.

“Kami ingin arak tradisional ini tidak menjadi anak tiri begitu. Sebab, sejak tiga tahun lalu arak fermentasi ini sudah ada, dan sejak ada Pergub jadi lebih banyak,” terangnya.

Pergub 1/2020 itu, urainya, masih perlu sosialisasi dan pendampingan terhadap tata kelola minuman arak tradisional ini. Sayang, karena masa pandem,i hal itu belum bisa dilakukan. Walau Pergub ini khusus untuk industri rumahan, kenyataan saat ini kapasitas produksinya skala industri.

Kalau rumahan paling banyak lima liter, tapi bila kalau sudah jerikenan sudah masuk industri. “Seharusnya yang begitu ada pengajuan izin. Makanya akan kami lakukan pembinaan,” imbuhnya.

Produsen arak di Karangasem, paparnya, hampir ditemukan di delapan kecamatan dengan yang terbanyak di Kecamatan Sidemen sebanyak 665 produsen arak rumahan. Selanjutnya di Desa Datah, Kecamatan Abang dengan jumlah 300-an perajin arak.

Untuk menjaga kualitas dan mutu arak, dia pun akan menetapkan standar. Bagi Sutrisna, produsen arak di Karangasem sudah cerdas dalam memahami keinginan konsumen. “Beberapa pembeli ditawari arak dengan kadar persentase alkohol berapa. Dia sudah punya alatnya juga untuk mengukur,” pungkasnya. nad

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.